Saturday, 28 March 2020

Kota Kecil Cikijing

Kota kecil itu di lereng gunung purba, di selatan gunung yang sekarang disebut Ciremai. Mata air dari sungai yang bermuara ke Cimanuk. Kota sejuk, hawa pegunungan terasa terutama menjelang senja. Bagian timur kota adalah perbukitan, padang rumput dan hutan terbatas sejauh mata memandang. Di Bagian barat jalan arah kota besar, pusat peradaban budaya Priangan yang terkenal halus tutur sapa. Bagian selatan, melewati jalan berliku liku sampai di pesisir Jawa bagian Selatan yang sama sekali beda dalam gaya hidup.

Kota ini dulu, konon dari legenda dan dongeng, ribuan tahun silam adalah danau yang luas kemudian akibat letusan Gunung Api Geger Halang, sebelum Ciremai,  membentuk kaldera yang memunculkan Gunung Ceremai sekarang. Letusan membuat pendangkalan danau yang lama lama mengubah menjadi daratan dan rawa di selatan Kota arah ke pesisir selatan Jawa. Ada yang melukiskan danau purba itu mencakup wilayah selatan ke pedalaman Jawa bagian tengah.


Kota kecil di selatan Gunung Ciremai. Kota perbatasan, berada di tengah kota kota besar yang mengelilngnya.Tidak banyak dikenal umum, nama yang artinya  Kerang air tawar. Kabarnya kerang itu hidup di danau purba di situ. 

Kota kecil, tapi penting bagi jalur transportasi  utara-selatan jawa, barat ke timur jawa. Kota pembauran, pertemuan antara penduduk di utara, timur, selatan dan barat. Kota kota yang mengelilingi kota kecil itu hanya berjarak satu jam perjalanan. Mengelilingi gunung Ciremai, gunung tertinggi di perbatasan Jawa Barat dan Tengah. Bagian utara gunung itu Kerajaan Islam sinkretis Cirebon pernah berjaya. 

Persimpangan ke arah barat ke kota Majalengka, ke utara ke Kuningan, linggarjati, Cirebon. Ke Selatan ke kota Ciamis. pertemuan Majalengka, Kuningan, Ciamis. Kota kecil yang hanya satu jam dari kota kota itu punya sejarah yang patut ditelusuri. Bahan sejarah minim, hanya menyebut ada tiga kerajaan pernah berdiri di kawasan ini. Tiga kerajaan berasal dari satu sumber. Sumber yang menyebut mereka asal Majapahit. Lika liku  runtutannya sosial budayanya kurang atau malahan populer. Apakah sejarahnya tercantum dalam babad tanah jawa, mungkin saja. Kota kecil itu dan Majalengka punya sejarah kerajaan. Memakai nama "Maja" untuk kota di situ memberi indikasi adanya kaitan kerajaan kerajaan di sini dengan Kerajaan besar di bagian timur pulau Jawa.

Jelajah Jawa

Berempat, naik minibus jenis Kijang mau menjelajah Jawa Barat, Tengah dan Timur. Kami kumpul di Tebet, di rumah salah satu dari kami berempat. Perlengkapan semua sudah masuk mobil, seluruhnya di bagian belakang yang bangkunya sudah dilipat. Jam  empat pagi berangkat, langsung masuk tol dalam kota lalu sambung tol Cipularang. 

Kami berempat punya hobil sama. Suka motret. Apa saja dipotret. Tidak profesional, sebab penghasilan diperoleh tidak dari motret. Saya suka street photografi. Apa saja di jalanan difoto, jarang sekali memperhatikan aturan aperture, kecepatan, iso dan diafragma. Buat saya momen paling penting. Jekrek setiap kejadian depan mata. 

Kawan saya, Sapto senang motret lanskap. Foto pemandangan alam, bebatuan, pohon rimbun kering, bangunan, kota, banyak contoh fotonya yang bagus, seolah dibawa ke dalam suasana dalam foto. Kawan saya lainnya, Hadi, fotografer yang lebih suka motret muka wajah, portrait. Dulunya dia fotografer wedding yang profesional. Penghasilannya dari motret peristiwa perkawinan dari mulai pra wedding sampai paskah wedding. Ada yang bahkan pesan album, prewed sampai hamil dan punya anak,  proyek jangka panjang kata kawanku. Sekarang tidak lagi. Bisnis itu diserahkan ke anaknya. 

Kawan terakhir adalah eko,  fotografer jurnalistik. Dia mengaku begitu. Sebuah foto harus bisa bicara. Dia bekerja pada majalah terkenal di Indonesia, sudah puluhan tahun. Sekarang sudah pensiun, tapi wataknya sudah terbentuk sebagai jurnalis. Utamanya sebagai penulis berita, sampingannya sebagai pemotret. 

Itulah kami berempat pagi sekali sudah berangkat ke "Jawa" istilah anak Jakarta yang hendak bepergian ke jawa arah timur. Berhenti pertama di purwakarta. Kota terkenal ketika pembangunan proyek waduk jatiluhur. Waduk mulanya sebagai sumber listrik yang yang menerangi jakarta. Sekarang multiguna, mulai budidaya ikan, penyewaan jet ski, perahu monorel, intinya orang diajak mengenali Jatiluhur. Waduk yang dirancang zaman Soekarno tahun 1957 baru diresmikan zaman Soeharto tahun 1967. Dikerjakan oleh kontraktor Swasta Perancis. 

"Dulu banyak mobil orens VW safari nomor polisi Purwakarta. Entah di mana mobil mobil itu sekarang."

Sarapan dan ngopi di situ, motret wawancara, sketsa, petani ikan, warung, pekerja waduk, penjaga warung seorang ibu setengah tua dan anak gadisnya yang cantik. Hadi motret ibu dan anak pemilik warung, di "setting" duduk dalam warung, di luar, berdua sendiri, gelungan rambut, urai rambut, berkebaya. Eko, instink jurnalistiknya langsung keluar. Lama sekali tak pernah turun lapangan. Terakhir di majalah jabatan membuatnya harus terus menerus di kantor. Gaya Eko yang rileks bikin  ibu dan anak itu jadi bebas cerita. 

"Cukup ah. Ibu itu jadi melayanin kita, padahal kita nggak makan di warungnya." Kata Sapto

"Cari obyek yang lain." Lanjut Sapto.sambil asik motret tempat pemancingan, lompat dari satu titian ke titian lain. Kami juga sewa perahu sambil motret kampung kampung terapung. Pesan makan, ikan bakar dan pepes oncom, pepes ikan nila bakar. Ikan segar memang enak.  

Data dan foto sudah puas, lalu berangkat ke Sumedang, lewat Wanayasa daerah wisata danau kecil, sekeliling resto warung makanan, langsung Sumedang. Terbaca di Gapura "Selamat datang di Sumedang Kota Tahu" . Cobain Tahu satu besek, makan berempat, sungguh sehebat yang dibayangkan.

Keliling kota motret, kata sejarah daerah Cadas Pangeran sebelum masuk kota Sumedang,  paling banyak makan korban sewaktu pembuatan Jalan Pos, Daendels (Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hinda Belanda). Langsung melaju ke Majalengka. Sengaja tidak memilih jalur Bandung-Garut Tasikmalaya ke Jawa Tengah. Trayek itu  Sudah terlalu sering dilalui, dan sudah banyak cerita tentang tiga kota itu. 

Sampai Majalengka, tengah malam, tidak sempat liat keliling kota,  langsung ke penginapan, minta supaya mobil dicuci supaya besok lanjut perjalanan sudah bersih. 

Majalengka seperti tenggelam dari kota kota baru yang tumbuh. Padahal itu daerah yang punya Sejarah berkaitan erat dengan Majapahit. Ada tiga kerajaan yang punya sejarah yang katanya punya pertalian kerabat dan sejarah dengan Cirebon.

Rencananya esok mau keliling kota dulu sebelum lanjut ke kota Kuningan.

Monday, 9 March 2020

Sampah Plastik

"Sampah plastik jadi masalah krusial" kata Mas Nano, aktivis lingkungan di kampung kami yang sore itu membahas soal sampah. Dia mengingatkan beberapa contoh misalnya matinya ikan paus yang isi perutnya penuh dengan sampah plastik.

"Kalau masih mau makan ikan segar, maka mulai sekarang mesti mengelola sampah plastik dengan lebih bijak. Jangan biarkan makhluk di laut menanggung akibat ulah kita buang sampah ke laut" Analisis dari banyak pihak mengatakan tiga puluh tahun lagi kita tidak bisa makan ikan yang bebas dari polusi plastik.

"Problem utama adalah sikap dan perilaku manusia yang tak bijak mengatur sampah plastik."

Obrolan panjang lebar soal sampah, penemuan plastik adalah teknologi yang bermanfaat bagi hidup manusia. Dengan plastik, diciptakan bermacam jenis alat, wadah, komponen lainnya juga banyak berbahan plastik. Seperti tak mungkin menghindar dari penggunaan plastik. Apakah suatu hari manusia punah karena sampah plastik, apakah harus hengkang seperti yang digambarkan dalam filem Wall E?

Temuan mengejutkan. Sampah plastik ditemukan di laut paling dalam di dunia. Kantong plastik dan bungkus permen ada di dasar laut di Palung Mariana di tengah Samudra Pacific. Dalamnya kira kira 11 kilometer.

Ah itu jauh dari Indonesia. Betul, kalau lihat jaraknya memang jauh. Indonesia negara kepulauan menyumbangkan sampah paling banyak nomor dua setelah China. Setiap hari, produksi sampah plastik di Indonesia bisa mencapai 175.000 ton, atau setara dengan 63,9 juta ton satu tahun. 

PL Plesir

Foto: Davy Ratu dan Jimwiss

Jalan liku liku, miring kanan miring kiri, pilih pilih langkah, supaya nggak nyenggol barang dagangan kakilima di trotoar. 

Keluar dari halte akhir Trans Jakarta, harus melalui lorong bawah tanah yang sisi kiri kanan penuh pedagang kelontong dan pakaian, lalu naik tangga, lalu muncul di permukaan seberang jalan. 

Melangkah, berjalan kaki melipir pinggiran jalan nyeberang di zebra cross. Nyebrang wajib waspada alias harus hati hati karena sepeda motor sering nyelonong tanpa mengindahkan pejalan kaki yang nyebrang.  Jelas aturannya garis setrip setrip melintang dijalan adalah area melintas pejalan kaki yang harus didahulukan. Tapi begitulah kota tua yang ramai. Saking ramainya lalulalang kendaraan, pejalan kaki jadi terpinggirkan.

Panas, gerah, tambah kesel sebab jalanan untuk pejalan kaki dikuasai PeKaEl alias Pedagang Kaki Lima. Untung saja tak berapa lama sampai tujuan disambut grup band dengan hentakan musik gaya Koes Plus yang seolah tahu "kesel" nya isi hati rombongan kami

" ........Kurasa berat, kurasa berat beban hidupku....uuuu..Ku tak tahu,  ku tak tahu oooooo ku jemu"

Bagian lirik berikutnya beberapa dari kami ikutan menyanyi. Tidak seluruhnya hapal, tapi pada bagian akhir serentak bersuara keras.

"Kujemu....heeeeee..kujemu" 

Boleh juga ide bikin pertunjukan musik di situ. Kalo band dan penyanyi gak bakalan kekurangan, dan pastinya lebih keren. Nanti saja dipikirkan sekarang waktunya ngopi, ngobrol  sambil menikmati alunan musik di kafe kota tua.

Mekarsari

""Masa depan Mekarsari ada di tangan anda." Sayup sayup suara pidato entahsiapa itu, tak kelihatan dari tempatku berdiri. Makin lama makin keras, mengulang kalimat yang sama. Ada apa ini? Ada peristiwa apa?

Akhirnya keliahatan dua mobil bak terbuka. Yang depan ada dua lelaki berpeci dan dua perempuan berjilbab, yang belakang kumpulan orang orang lelaki perempuan yang duduk di pinggiran bak mobil. Salah satu lelaki itu yang berpidato.  

“minggu depan ada pemilihan Lurah.”

“O, pantes,  rame banget suara keras pake speaker besar. Dijamin satu RT bakalan denger."

Sudah lebih tiga kali kata kata itu berulang disebut. Untuk meyakinkan juru kampanye pake kata "camkan", lalu diikuti kalimat ingat pesan ini. Simpan dan resapkan dalam hati.  Keluarkan pada saat yang tepat.  Pilih nomor tiga dan salam tiga jari. Jangan salah pilih. Jangan salah coblos. pilih yang amanah, pilih yang cinta sama rakyat, pilih yang mengutamakan kepentingan rakyat. Sampaikan aspirasi anda. Sampai bertemu di peristiwa penting bagi masa depan desa kita. 

Lalu iringan mobil bak itu bergerak, sambil terus berpidato, rombongan berlalu dari hadapan orang orang yang berdiri berderet di pinggir jalan. Mereka yang di atas bak mengacungkan tiga jari, berlalu dari tempat ini. “Mereka pindah ke rt berikutnya, pokoknya keliling kampong” kata orang di sebelah. 

“Kemarin lebih ramai, seperti pawai. Ceritanya juga sama, amanah, mengabdi rakyat, pokoknya pidato yang membuat rakyat tertarik.”

“nanti juga lupa setelah jadi lurah” kata seorang ibu sambil ketawa.

Semoga yang dijanjikan bisa diwujudkan. Pokok kampanye, isi pidato dan ritme bekerja selayaknya sama dan sebangun. Jangan lagi terjadi masa depan desa hanya sebatas di tangan elite, bukan di tangan rakyat seperti janji kampanye.

PL Plesir

Bukan kumpul di lobby Plaza Indonesia yang penting, bukan naik Trans Jakarta yang penting, bukan makan suikiauw di Mangga Besar yang penting, bukan ngopi di Kota Tua yang penting. Lalu? Ngumpul bareng, momen langka tanpa rencana sangat berharga. 

 "kapan lagi bisa jalan jalan kayak gini."  kata temen yang domisili puluhan tahun di Perth Australia. Makanya pada telpon telponan ngajakin siapa aja yang minat. 

"lu senin kemana? Kita mau jalan jalan."

"hayuuuk"

Kumpul, bikin rencana yang berubah ubah, bergantung mood. Mungkin karena sudah sering diskusi, apapun di bahas bareng. Menentukan tujuan mana lebih dulu, dibicarakan sepanjang jalan. Di lobby, di halte, bahkan di dalam bis. Walhasil pilihan makan dulu. 

Duduk rileks di bangku teras depan sebuah kafe. 

"gue di dalem, mau ngadem"

Panas, gerah hari itu bikin rombongan terbagi dua, yang satu tetap di teras, bebas rokok walau panas. Yang satu lagi di dalem, no smoking tapi air condition. Pilihan toh di kita. 

Lama di situ. Ngobrol dari soal kamera berat berjenis dslr, kamera ringan mirrorless, kamera bekas, harga murah jadi bahasan penting. 

Saling foto diri, selfie atas jasa orang lain, cegat orang minta tolong fotoin bagian dari kegiatan jalan jalan. 

"gue pernah ngaudit di Mentawai. Ngeri ke sana. Ombaknya tinggi, padahal pake boat."

"zaman dulu gue pernah ke Siberut, ketemu dengan orang asli Mentawai, liat upacara adat agama, pimpinan Sikerei (dukun)."

"Nggak, itu hanya jalan jalan, bukan kerja."

"kapan kapan kita ke Gunung Padang yuk, penasaran liat situs di situ."

Cerita masa lalu, bikin ngobrol sambil ngopi dan ngebir jadi menarik, dan gak terasa sudah lepas magrib. Sayangnya sebagian harus balik rumah, takut kena macet akibat demo buruh. Sebagian besar lanjut mau makan di muara baru. 

Nggak perlu jauh jalan jalan, keliling Jakarta toh bisa bikin senang. Katanya akan ada acara jalan jalan tiap dua bulan? Sekali lagi, yang penting ngumpul bareng

Turis

Baru sampe Bali, sudah ada tawaran mau kemana sir? Lembongan, Sanur. Tinggal duduk di lobby hotel langsung di pick up, soal ongkos, bisa liat tabel di lobby hotel, ada lleaflet. Namanya day cruise. Namanya juga pake perahu motor ukuran besar which is ok for family.

Pernah naik onta? Backgorund bukan padang pasir, di taman sari ada adventur bersama onta, tak jauh dari teluk jimbaran. Ada paket paket, di pusat informasi hotel.

Jadi turis serasa jutawan. Pilihan wisata yang variatif, tinggal pilih.  Turis nggak jutawan juga oke, tinggal jalan jalan sepanjang Kuta Legian Seminyak. Makan warung skaligus gus ngopi,  duduk di bangku panjang, murah meriah suasana Bali. 

Nanti sambung lagi, mau nonton tari kecak.

Cafe Del Mar

Cafe Del Mar, di pantai Batu Belig, kelurahan dan kecamatan mana rasanya gak penting. Yang penting itu di Bali, begitu mendarat si pulau yang jarang lagi disebut Dewata, semua tahu, apalagi sopir taksi online. 

Suasana gaya arsitekturnya konon jiplak Italia, maksudnya biar gak jauh jauh ke eropa, cukup ongkos kurang dari dua juta pergi pulang sudah sampe di situ. buat liat sunset.

"Liat sunset aja gak usah ke Del Mar juga nggak apa apa, toh sama aja."

"Eits, bukan cuma liat matahari terbenam, kita beli suasana." 

Kata mereka yang sering ke tempat ini, liat sunset di mobil, duduk sendiri anyep. Nggak ada memory, tak membuat kesan. 

"Kalo lagi happening, lebih seru." Maksudnya kumpul dengan temen temen, atau kenalan dengan temen baru, punya temen dari temen, nambah pergaulan. "Tiap dateng, ada aja temen baru." 

Pengunjung di situ memang dari segala penjuru. Orang liburan ke Bali, pengen tahu tempat ini, dan kumpul deh. Ini kayak beach club, liat matahari terbenam, lanjut joget party,  dugem,  ramai, suka ria, entah apa maknanya, hanya yang senang yang memaknai artinya. 

Liburan, tempat kumpul kaum kocek banyak. Kata kawan ini liburan ala shahrini, gak mungkinlah nonton sunset di warung sambil minum kopi tubruk, itu bukan gaya selebritis. Segala minuman panas dingin ada. Ada yang ringan terkendali, sampai yang berat banget. Datang ke sini beli suasana, ya hang outlah 

Mau liat sunset memang panas, gerah pake baju praktis, yang bikin gak gerah. Jangan lupa biar pakaian seminim mungkin harus gaya. Sebab ini tempat yang instagtamable, jadi biar kepanasan yang penting berfoto yang gaya. Gaya selebritis.

Makan Siang Ala Desa

"Bebek Tepi Sawah" kata pemimpin rombongan. Setelah lelah keliling lihat binatang dan pertunjukan. "Kita makan di sana" katanya menambahkan. 

Selepas dari Safari di Gianyar, lalu makan siang di Bebek Tepi Sawah Pusat, maksudnya Resto yang bukan cabang. Penandanya, masuk pintu utama, melewati garasi pemilik, terpajang Lamborghini merah dan jeep wilis kuno tapi aksesoris komplit dan cat hijau tuanya kelihatan baru. 

Menuju pondokan, tempat makan, melewati pematang. Sungguhan dibuat seperti di sawah. Andai saja musim penghujan, bakalan ada padi di genangan air, macak macak, tidak meluber, yang tak disangsikan lagi seperti pondok tepi sawah

Di Musim kemarau kini bikin suasana sawah berkurang kadarnya. Sawah kering, tak ada padi kecuali ilalang yang rimbun. 

Mengelilingi meja makan, melihat dinding, ada deretan foto besar pemilik resto itu dengan para petinggi negeri ini. Kemudian lihat ada sepeda ontel tua banget, di pajang di pondok makan situ, di bawah foto dinding. 

Memajang foto pemilik dengan presiden, lalu dibawahnya pajangan sepeda ontel, seolah pemiliknya bercerita kepada presiden 

"Saya mulai usaha bebek gorengnya pake sepeda ontel." 

Sudah hal biasa bahwa pajang foto maknanya pamer. Pemilik memamerkan bahwa resto ini pernah dikunjungi orang nomor satu di Indonesia.

Ya, betul, pengusaha bebek ini sukses, masih muda sudah punya resto terkenal dengan cabang di banyak tempat. Sepertinya punya kiat jangan cuma jualan bebek goreng, tapi yang lebih penting jual suasana. Itu yang dilakukannya. Untuk menguatkan gaya kesuksesan, di garasi terbuka depan rumah dapat dilihat Lamborghini merah.

Rama dan Shinta

Saat dialog Rama dan Shinta,  tiba tiba muncul kera, lompat berlari menghampiri deretan gadis penonton, merangkul salah satunya. Gadis itu teriak kaget, mengkeret ketakutan, si kera tetap di situ, rupanya menunggu fotografer mengabadikan kera dan gadis itu. Seketika pecah tawa berderai, teriakan kagum sana sini. Pecah kesunyian selama pertunjukan yang telah berlangsung tiga puluh menit. 

Selanjutnya, kera menjadi primadona, setiap sesi sesi berikutnya aksi banyolan si kera selalu tampil dalam drama tari Ramayana. Drama tari yang popular dengan sebutan Tarik Kecak sebab penari yang jumlahnya puluhan berteriak ritmik "cak cak cak". 

Malam itu menampilkan Kecak, Tari Kecak, Tarian Kecak sebuah  pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an. Konon Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.

Rasanya dulu tari kecak sangat magis, menvekam, panggung gelap, hanya diterangi obor obor di pinggiran panggung, dupa dan bunga yang bercampur baunya makin menvekam. Prolog suara dalang yang menceritakan kisah ramayana dengan suara berat berintonasi. Sekarang tidak seperti itu.

Penyelenggara sangat paham. Atraksi tarian ini adalah konsumsi wisatawan. Sepertinya belum tentu mengerti makna gerak dan irama lagu dalam tari teatrikal yang dimainkan artis lokal. Cukup hanya  menampilkan potongan dialog Rama Sinta, pertentangan Rama dan Rahwana. Tidak harus terus menerus dialog malahan berkesan monoton, membosankan ngantuk. Karenanya ditonjolkan banyolan kera, entah itu Hanoman, Sugriwa, Subali, tak penting. Yang jelas mampu menghibur penonton. 

Memang penampilan kera foto selfi dengan penonton tidak membosankan. Penonton ikut partisipasi, ikutan bergerak tidak sekedar duduk manis. Alhasil sampai akhir pertunjukan banyak yang ingin foto bersama artis lokal. Harga pantas, penonton puas, di pantai Pandawa yang sedang berhias.

Foto: Leonard Hutabarat

Bunga dan Dupa

Bunga dan dupa ada di rumah, di jalan, trotoar, pintu gerbang, pasar, kios, toko, rasa rasanya di mana saja ditemui. Bunga dan dupa. Setiap hari di tempat yang sama, bunga dan dupa berganti yang baru. Apa ini kepercayaan Hindu atau ini adat Bali? Rasanya sulit memisahkan mana yang adat mana yang agama. Kegiatan menyajikan bunga dan dupa sudah menyatu dalam adat tradisi dan kepercayaan orang Bali. Mungkin ada mantara atau doa ketika menaro bunga dupa di tempat yang sakral. 

Kebetulan melihat lebih khusus ketika mengunjungi pasar Sukowati. Jam 10 lewat sudah di sana. Termasuk telat, sudah siang menurut pendapat teman teman yang pernah kesana.

"Kalau lebih pagi lebih rame. Banyak makanan dan jajanan. Jualan kembang juga banyak dan seger"  Percaya saja kata teman itu, toh belum pernah pagi pagi nongkrong di pasar yang buka jam 9. Lagi pula untuk trip kali ini hanya datang ke situ sekali saja. Sebab ada destinasi lain yang mesti dilihat mumpung di Bali. Hanya 3 malam sama maknanya dengan berpacu dalam waktu tenaga dan kocek.

Begitu masuk gerbang pasar Sukowati, bersebelaham dengan perempun, separo baya,  berkebaya berkain, membawa bunga dalam wadah pincuk daun serta dupa. Sebelum menaro di gerbang, mulutnya komat kamit, merapal atau berdoa. Sebentar saja. Hanya memindahkan bunga itu dari nampan ke tempat yang tersedia di sisi gerbang. Lalu pergi. Mestinya doanya adalah ucapan syukur dan harapannya mendapat rezeki lebih baik untuk hari ini. Ini hanya dugaan saja,  mengingat pasar esensinya tempat jualan.  

Demikian pula yang nampak di Pasar Sukawati,  pasar tradisional yang paling terkenal. Tempat belanja murah beragam  kerajinan, pakaian tradisional khas Bali,  celana pendek, panjang, baju dan kaos pantai, motif Bali. Katanya sih harga di sini lebih murah dibanding kios kios Nusa Dua, Kuta, Pantai Pandawa, walaupun banyak sanggahan soal perbandingan harga. 

"Di Bali, di mana saja, harganya sama saja, bergantung kepandaian menawar." Memang jangan heran kalau ada wisatawan yang beli barang yang sama di Kuta lebih murah daripada di Sukowati. 

Kabarnya para pedagang di kios atau pasar tradisional merasa terancam dengan adanya mall atau Toko Super Besar yang menjual produk tradisional dengan harga fixed dan lebih murah. Tantang bagi para pedagang tradisional, terutama di Sukowati. Jangan jangan akan lebih sering bunga dan dupa serta rapalan doa dilakukan untuk menghadapi saingan modal kuat.

Drama Rebut Lahan

Pertunjukan gajah di Taman Safari Bali, saya kira hanya acrobat gajah yang menunjukkan keahliannya dalam suatu hal, yang membuat decak kagum penontonnya. Bukan. Pertunjukan gajah adalah sebuah drama rebutan lahan antara gajah dan manusia.

Manusia membuka lahan untuk hidup, membuat rumah pemukiman, kebun dan sawah mengolahnya menjadi makanan pokok untuk hidup sehari hari bertahun tahun. 
Sampai pada suatu hari beberapa gajah turun dari gunung mengobrak abrik lahan sawah kebun dan rumah penduduk. Penduduk kocar kacir, gajah memakani garapan manusia. Manusia mengungsi lalu membalas, mengusir gajah itu sampai situasi menjadi aman, lalu membangun rumah, lahan makanan lagi. Lalu balik lagi gajah mengobrak abrik. Kejadian terus menerus yang akhirnya membuat manusia tak betah, lalu berusaha membunuh gajah gajah yang mengganggu. 

Mengganggu? Siapa yang mengganggu? Konon itu adalah jalur gajah yang sering migrasi dari satu tempat ke tempat lain. Kasus gangguan gajah, di beberapa media sering dimuat. Tahun 80 an, 90 an kejadian itu berulang. Bukan Cuma gajah, hewan buas liar lainnya seperi harimau juga dianggap menganggu. Soal mengganggu, kalau melihatnya dari kacamata manusia ada benarnya. Tapi ketika  melihat dari kacamata hewan. Kesimpulan bisa lain.

Tahun 80an proyek Kementrian Lingkungan Hidup memindahkan gajah terjadi. Ratusan gajah digiring ke dalam hutan, melewati batas  propinsi. Dari Sumatra Selatan bagian utara ke Lampung. Lalu dibuatkan “kandang” gajah, atau kawasan gajah yang maha luas yang harapkan menjadi habitat gajah untuk masa depan. Di situ aman, nyaman dan indikatornya adalah gajah bisa beranak pinak di sana. Gajah aman dari gangguan manusia, dan manusia juga bisa berkembang biak di desa desa yang aman serangan gajah. 

Akhir drama,  mempertontonkan gajah yang membantu manusia yang hanyut di sungai. Dengan belalainya dia mengangkat manusia itu, menyelamatkan dari bencana. Toh gajah dan manusia bisa berdamai dan bekerjasama. Begitu pesan moral dari drama singkat di Taman Safari Bali.

Orang Mexico

Orang Mexico itu terkagum kagum liat pantai barat Bali. “persis seperti di kampong saya” begitu kira kira pendapatnya sewaktu melihat pantai Batu Belig, tepatnya di Café Der Mar. 

Semua serba putih, payung payung yang kuncup dari kejauhan seperti cactus. Lanskapnya kayak settingan filem the Good the Bad and the Ugly, serba tandus, matahari mencorong.  

“Ola” pas ketemu satu orang papas an di situ yang menyapa gaya latina. 

“Ola” kata si Mexico gugup. Gugup khawatir diajak ngobrol latina. Rupanya sekedar basa basi saja orang itu. 

Si Mexico, langsung buka topi koboi nya, melipir cari tempat teduh.

Foto: Leonard Hutabarat

Pintar Tak Jaminan Mampu Memimpin

Ya kamu maju ke depan, hitungan tujuh. Lalu dia ke depan, menghadap kelas, menyebut lantang,  satu kali tujuh sama dengan tujuh, dua kali tujuh sama dengan empat belas, dan seterusnya sampai sepuluh kali tujuh sama dengan tujuh puluh. Tepuk tangan riuh di kelas itu. Tak satupun hitung hitungan dia yang meleset. 

Kesempatan lain pelajaran sejarah, kewarganegaraan semua dilalap dengan mudah. Peristiwa perang diponegoro, perang kemerdekaan, sejarah Sriwijaya, Majapahit, Demak, sampai Mataram dikuasai olehnya. Tak satupu guru kecewa, malahan memuji akan kepintarannya, kerapihan berpakaian, tegap, bahasa teratur, pandai bicara.  

Di rumah, dia anak kesayangan ibunya.  Setiap ada pertemuan ibu ibu di rumahnya, dia dipanggil dan diperkenalkan mulai dari nilai rapot, cita cita dan taat beribadat, patuh pada ibunya. Ibunya jadi jubir, dia hanya senyum saja. Semua ibu ibu di situ senang, sekali sekali bertanya langsung padanya. 

“nanti besar mau jadi apa? Jadi pemimpin sudah cocok!”

“mudah mudahan.” Katanya. 

Decak kagum para ibu itu makin bertambah. Mungkin mereka berpikir pasti dia akan jadi pemimpin yang hebat. Pintar, taat, pandai bicara. Bisa menganalisis persoalan yang rumit. Apalagi bahasa Inggeris. Saat di dunia akademis-kerja koleganya banyak yang kagum 

“kok persis orang Amerika ya bahasa Inggerisnya.” Dia sering tersipu dan dengan halus merendah.

Lingkungan keluarga, tetangga, teman sebaya, bahkan kalangan yang lebih luas, terus menerus memuji. Jarang, bahkan tak ada yang mengkritik. Makin Percaya diri akan pujian dari lingkungan dekat meyakinkannya dunia dalam genggamannya. Dunia memujinya. 

Di momen ini dia justru banyak mendapat kritikan, dianggap pikirannya gak masuk akal, nggak bisa bekerja, tidak tau apa yang harus dilakukan, tidak tahu prioritas, tidak bisa atur orang. Shock. Dalam hati dia kan dianggap pintar kok dikritik sebagai orang yang bodoh. Dia refleksi zaman sekolah dan runtutannya dianggap orang pintar. tapi kok zaman bekerja dianggap jauh dari pintar. 

Lalu dia berhalusinasi Jangan jangan banyak orang tidak suka padanya, dan menyebut dia sebagai orang bodoh. Tak percaya. Menganggap orang lain iri, cemburu, karena tak mampu meniti karir cepat seperti dia. Mengikuti kata halusinasinya. “I don’t care what people say”.

Jadi pemimpin harus “smart’ yang diucapkan olehnya dengan bahasa inggeris ke amerika amerikaan yang fasih. Peserta workshop motivator kagum dan memberi applaus. Sebelum mengakhiri ceramahnya iya memberi kiat, “pekerjaan yang rumit itu akan lebih mudah bila tidak dikerjakan”, lalu ngeloyor keluar kelas workshop sambil senyum .

Kumpul PL77

"Sate ayam dua, sate kambing dua, sate buntel dua, tongseng dua” orderan dimulai setelah ngobrol ngalor ngidul.

“masa sayuran gak ada” 

“pesen tumis kangkung mas, dua.”

“Udah komplit ye."

“nasi pesen enam aja, ntar pada bagi dua.” Nggak ada yang kuat makan nasi masing masing satu porsi.

“minuman, gak ada yang pesen lagi ya. Udah cukup yang ada aja."  Semua pesen teh tawar hangat. Hehehehe, udah nggak ada yang berani minum dingin dan manis. Bukannya mau irit cuman menjaga stamina badan tetap sehat.  Begitu motto temen sebelah saya. Entah bener entah nggak, "kalo gw sih minum pake es gigi ngilu."

“Orderan untuk meja sini aja. Meja yang sana biar mereka yang order sendiri.” Si mas nya nyatet pesenan kita, lalu beralih ke meja sebelah. Entah apa yang dipesen nggak kedengeran. 

PL77 Kumpul di Sate House Senayan semalam Kamis 14 November 2019.  Lebih dua puluh orang hadir,  reuni terbatas bidang kangen kangenan. 

Ada yang masih ditunggu, tetapi Sembilan puluh Sembilan persen sudah hadir. Nggak ada peristiwa penting, hanya kumpul saja, ceritanya sudah lama nggak ngumpul, jadi salah seorang inisiatif ngajak ngumpul. 

Senang! Tentu senang, karena kembali mengingat ingat wajah temen sma. Sebagian besar masih kenal. Beberapa yang gak kenal, tapi jangan khawatir dalam beberapa detik langsung akrab. Ngobrol mulai dari pekerjaan hobi  sampai politik kekinian. 

“Gue sekarang udah nggak di Solo lagi. Udah balik Jakarta”

“Gue masih di kantor lama, lantai empat puluh satu.” 

“Kalo dia sih apa aja dikerjain, dari olahraga sampe music, jadi penghubung antarangkatan. Paling eksis diantara kita."

Udah jam Sembilan, yok balik. Foto bareng dulu buat uplod di grup.

Foto: Davy 'ippie' Ratu n Roy Rahardjo

Hidup di Perkebunan Tembakau

Afung, pedagang kelontong di daerah perkebunan Tembakau Deli, di kecamatan hanya satu jam dari kota Medan arah Binjei. Dia sudah di situ turun temurun, yang dia ingat bapaknya cerita, kakek bapaknya pun sudah ada di situ. Bisa jadi nenek moyang afung adalah buruh perkebunan tembakau Deli yang terkenal. 

Dekat situ masih berdiri sisa sisa bangunan gudang, bangunan rumah, pos pos masih nampak kokoh hanya sudah tak terpelihara.  Daerah itu masih menyisakan gambaran kejayaan kekuatan ekonomi Sumatra Timur zaman Hindia Belanda. 

Perkebunan Deli adalah bagian dari wilayah Sumatra Timur,  dari Langkat sampai Labuan batu. Perkebunanan  Tembakau Deli itu amat terkenal, mendunia,  menyumbangkan devisa besar bagi pemerintah Hindia Belanda. Buruhnya adalah orang Cina yang didatangkan dari daratan Cina dan orang dari tanah Jawa.

Kemasjhuran Deli bertolak belakang dengan kenyataan hidup di daerah perkebunan itu. Hidup para buruh atau saat itu disebut Kuli. Iya, kuli dan bukan pegawai sebab  jauh dari standar hidup.  Konon majikan dapat berbuat semena mena terhadap para kulinya. Mereka yang dianggap bertindak criminal, atau berbuat keonaran di kebun mendapat hukuman. Arti hukuman bukan saja karena tidak disiplin kerja, tetapi hanya karena tidak hormat kepada majikan. 

Berita tentang keadaan kuli di perkebunan Sumatra Timur didasarkan atas catatan laporan, berita media tentang kuli kontrak perkebunan. Para kulinya terutama dari Cina dan Jawa hidup sangat mengenaskan terutama ketika mendapat hukuman. Hukuman atau lebih tepat disebut siksaan. Konon laporan itu yang membuat adanya perombakan kebijakan pada kuli kontrak. Ada politik etis. Tetapi Perombakan kebijakan hanya di atas kertas. Kenyataan, membangun irigasi dan pemindahan penduduk lebih untuk kepentingan produksi perkebunan. Irigasi dibangun di perkebunan, untuk meningkatkan surplus produksi. Pemindahan penduduk, memudahkan mendatangkan tenaga  dari Jawa ke daerah perkebunan.  

Bagi para Tuan kebun, ada politik etis artinya makin turut campurnya inspektorat dalam pengawasan kerja, hubungan kerja tuan dan kuli. Pengawasan oleh pemerintah dianggap justru membuat para tuan kebun tidak dapat bertindak tegas dihadapan kuli. Kata laporan ini makin membuat hukuman lebih kejam, walau dilakukan secara diam diam. Aturan hukum diberlakukan khusus di perkebunan yang intinya lebih semena mena. Para tuan kebun melihat kuli itu seperti hewan yang hanya takluk dengan pentungan. Menjinakan mereka caranya adalah dengan memperbanyak pentungan. 

Pertentangan perdebatan di kalangan Belanda sendiri seru. Ada yang menentang kebijakan pentungan ada pula yang mendukung pentungan. Walau sama sama Belanda tetapi beda melihatnya. 
Barangkali karena itu ada kompromi dua pihak itu dengan mengambil orang terpandang, berpengaruh seperti Tjong A Fie untuk menjadi penengah, menyelesaikan persoalan di dalam perkebunan. Salah satu penyelesaian jitu membuat kuli menjadi jinak dan pula tuan kebun tak bertindak semena mena. 

Konon dari cerita leluhur Afung,  warung kelontong di daerah perkebunan sudah ada zaman Belanda. Warung itu bukan saja jualan bahan kebutuhan harian, tetapi juga tempat jualan opium, tempat berjudi. Bahkan ada juga yang bilang tempat hiburan kaum lelaki saat gajian. Adanya pusat hiburan dan lainnya di daerah perkebunan itu membuat kuli tidak bisa keluar dari lingkaran hutan. Pengajuan kontrak baru tak dapat ditolak saking banyaknya hutang yang melilitnya. 

Untungnya pecah perang dunia pertama membuat laba tembakau merosot, terpaksa mengurangi kuli. Sebagian dari kuli terlepas dari lingkaran setan di perkebunan. Yang Cina ada yang pulang kampung, adapula yang buka usaha dagang barang jasa. Terkenal jadi Cina-Medan. Yang Jawa sebagian pulang ke jawa. Sebagian lain tetap tinggal di sumatra, popular dengan nama Jadel, Jawa Deli. 

Sekarang seperti apa hidup di perkebunan? Polanya masih sama, tempat keramaian, pasar pusat hiburan lebih ramai saat gajian.  Warung kelontong selalu ada karena menyediakan barang kebutuhan kebutuhan pokok sehari hari.

Bawean

Sepanjang perjalanan panjang dari utara menuju Jawa, Putri Kerajaan Campa sudah sakit sakitan. Tubuh putri tak kuat lagi, minta turun di satu pulau yang terlihat.  "Itu bukan jawa," 

Tak perduli, pokoknya mau turun." Kata puteri.

Perdebatan terjadi antara nakhoda dan perwira navigasinya. Kira kira dialognya begini

"Nanggung, bentar lagi juga nyampe jawa." 

"Tapi tuan puteri sudah bosan nggak kuat. Biar dia diobati di darat, siapa tau lebih nyaman." Begitu kata nahkoda. 

Nanggung gak nanggung akhirnya komando kapten kapal perintahkan kapal berlabuh. Kapal sandar di satu pulau yang menurut hitungan para ahli navigasi di kapal itu tak akan lebih dari satu hari mencapai pelabuhan kerajaan Jawa. 

Maksud hati nahkoda dan kru kapal Ingin cepat sampai tujuan tapi tak  berani menentang perintah puteri. Puteri kerajaan  terlalu penting untuk diabaikan,  kalau  terjadi sesuatu pada putri itu, bakalan berakibat fatal pada nakhoda dan anakbuahnya. Jadwal tiba di Jawa tertunda, putri singgah di pulau, mendapat pengobatan yang intensif dalam suasana yang lebih nyaman tak ada goyangan ombak dan gelombang. 

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, pengobatan tak menyembuhkan putri. Ia meninggal dunia lalu dimakamkan di pulau itu. Demikian kisah cerita rakyat setempat, dengan macam macam versi yang menyebabkan pulau ini disebut pulau putri. 

Mungkin saja cerita rakyat itu adalah fakta, mengingat lingkungan kerajaan, raja, pangeran banyak menikah dengan putri Champa. Apalagi saat itu perdagangan intensif terjadi antara Kerajaan di jawa Sumatra dan indocina. Persekutuan di antara kerajaan salah satunya melalui Ikatan perkawinan.

Kemungkinan pulau berpenghuni setelah jadi bagian dari kerajaan di Jawa yang kemudian di kendalikan oleh raja dari Bangkalan, Cakraningrat turun temurun. Ini yang membuat penduduknya mayoritas dari daerah Bangkalan khususnya Madura umumnya. Ada yang menyebut memang penduduk mayoritas Madura, tetapi bahasanya campur aduk (kreole) campuran dari Madura, Jawa, Melayu (Palembang). 

Orang Kemas atau pedagang-saudagar Palembang konon banyak berdatangan ke pulau ini bertemu dengan para pejabat kerajaan Bangkalan. Membawa warna bahasa Melayu di pulau itu.  Bahkan katanya ada campuran Inggeris akibat banyak orang di situ yang merantau puluhan tahun di singapore atau Malaysia lalu kembali ke pulau membawa bahasa campuran inggeris melayu.  

Belanda, tepatnya VoC waktu itu menguasai pulau dari raja Bangkalan dan menyebutnya pulau Lubeck, ada juga yang menyebut Baviaan, mungkin banyak lagi nama sebutan pulau itu, tapi tidak ada dalam catatan dokumentasi. 

Entah apa pentingnya pulau ini bagi VoC. Sebab pulau itu gersang dan tak menghasilkan sumber alam yang potensial untuk devisa.  tidak ada informasi alasan VoC membuat gudang militer di situ. Mestinya pulau ini penting secara militer. Pulau yang penting dipertahankan sebagai benteng menangkis serangan atas pusat ekonomi pulau jawa.  Dalam hal strategi militer, pulau ini pernah disebut sebagai tempat berkumpulnya (atau mungkin tempat persembunyian) armada kapal laut sekutu untuk membendung serangan angkatan laut Kekaisaran Jepang tahun saat perang di laut Jawa. 

Tapi armada sekutu pimpinan Laksamana Muda Karel Doormann itu kocar kacir, bahkan Si laksamana tenggelam bersama kapalnya. Mungkin pulau itu memang penting bagi benteng pertahanan Jawa mengingat hanya 120 kilometer utara gresik, jawa timur.

Pulau gersang tak punya hasil alam yang potensial saat sekarang  cikal bakal wisata maritime dunia, ratusan Yacth dalam wonderful sail to Indonesia, mampir di pulau ini. Wisata pantai pulau dengan fauna babi rusa yang unik hanya ditemukan di pulau itu. 

Gubernur,  bupati dan pejabat teras propinsi Jawa Timur bangga dengan terpilihnya pulau Putri atau Lubeck yang tak lain adalah Bawean, pulau yang  semula tak penting menjadi destinasi wisata. Flora fauna dan khas kebudayaan Bawean dipertontonkan kepada dunia. Kalau VoC zaman dahulu membangun gudang militer, kalangan pebisnis Jawa Timur membangun wisata pulau Bawean menjadi salah satu potensi poros kebudayaan maritim dunia.

Ahok

Ada yang bilang dia gak cocok, sering bikin gaduh. Ada yang bilang dia galak, pemarah, anak buahnya dimarahin di depan umum. Ada yang bilang dia tidak cocok, tak punya pengalaman. Ada yang bilang dia manusia kelas glodok. Ada yang bilang dia gubernur paling bodoh. 

Tetapi ada yang bilang dia orang yang visioner, cerdas, tegas. Bahkan Erick Thohir menyebut dia butuh orang yang bukan saja cerdas, tapi lebih penting dari itu adalah berakhlak. 

Mereka yang menentang dan mereka yang menerima Ahok, pastinya pernah liat bahwa ribuan karangan bunga pernah dikirim ke ahok (dan jarot) sebagai ucapan terima kasih memimpin jakarta. Saking banyaknya karangan bunga sampai pekarangan kantor gubernur nggak muat.  Barangkali tak pernah ada gubernur yang dihormati oleh warganya seperti halnya Ahok.

Dia

Dia menyesal kenapa nggak pernah mau belajar piano. Anak orang yang bukan miskin, walau nggak bisa dibilang kaya. Rumahnya dulu di sekitaran Blok M. Jarang pulang ke rumah.  Sering nginep di rumah temennya, dari satu temen ke temen yang lainnya. Semasa mahasiswa dia punya kamar di asrama mahasiswa, seberangan dengan Hias Rias Cikini. Kalau cerita berantem, berapi api, bahasa ceritanya kasar, yang nggak biasa denger bisa merinding.  

Dia pendaki gunung menyebut diri sebagai pecinta alam. Bukan cuma daki gunung, tapi juga masuk ke gua gua, masuk ke lubang, lorong bawah tanah, takjub dengan keadaan bawah tanah yang ada aliran sungai. Senang juga napak tilas manusia purba, meneliti situs arkeologis. Suka cerita cerita yang konyol dan mengundang gelak tawa. Kawan kawan sebayanya adalah pendaki kawakan di negeri ini.organisasi pecinta alamnya terkenal, semua orang pasti tahu. 

Senang nyanyi, suaranya merdu, apalagi kalau menyanyikan lagu lagu rakyat (folksong). Terakhir mendengar dia mengalunkan lagi “in the mood” nya Glenn Miller yang susah banget. Ternyata juga bisa. Rupanya bukan saja folk yang dia mahir. “Begin the beguine.” Suatu sore dinyanyikan olehnya. Terasa mendalami sekali caranya menyanyi. Kalau cerita soal lagu, musik bahasanya bisa beda banget. Cita rasa tinggi dan ngulik kalau membahas satu lagu, mulai dari sejarahnya, maknanya dan penyanyi yang paling cocok menyanyikan lagu itu.  

Ternyata dia kaya dengan berbagai genre musik. Folk, jazz, pop, balada, gospel. Karena suaranya merdu, lagu yang menurut kita jelek, menjadi bagus dan menarik saat dinyanyikan olehnya. 

“gue nyesel banget gak belajar piano”. Zaman masih remaja dan muda, yang belajar piano rata rata perempuan. Temen temen gue sering ngeledekin, ngapain belajar piano, kayak perempuan aja lu” ejekan itu membekas banget, membuat dia menjauh dari dunia piano, bahkan mencoba belajar saja tak dilakukan. Apalagi tantenya yang nyuruh belajar piano cerewet dan galak. 

“Gue makinan  gak kepengen belajar.” Walau dalam hati pengen banget belajar piano. Jari tangannya katanya cocok untuk main piano, panjang dan langsing. Alat musik lain gak terlalu menarik baginya. Gitar, brass, gesek hanya senang dinikmati suaranya saja. 

Nasi sudah jadi bubur, sampai akhir hayat kemampuannya yang paling profesional adalah menulis. Tulisan-tulisannya dikenal. Salah satu penulis yang handal dalam cerita bertutur. Tulisan pendek dan padat memberi banyak inspirasi bagi pembacanya.  Ada bukunya yang terakhir, sudah jadi tapi belum sempat dia liat, sudah pindah ke alam lain. 

"Are you going away with no word of farewell
Will there be not a trace left behind
Well, I could've loved you better, didn't mean to be unkind
You know that was the last thing on my mind"

Kami menyanyi lagu Nana Mouskouri di udara sejuk Ranupani, di kaki gunung Semeru, Jawa Timur

Bukan Sembilan Naga

"Haaaiiiiittt!!",."Hiaayaaaahhh!" Kui Eng Bun Hong teriak menyambut gerakan pengeroyok lebih dari dua puluh orang.Sementara Beng Han kakak tertua bersedakep, jaga jaga menyaksikan dua adiknya mengeluarkan gerakan ilmu silat tangan kosong Kong-jiu-jip-pek-to at atau Tangan Kosong Serbu Ratusan Golok dan Sin-liong-haon-sin Naga Sakti Berjungkir Balik. Dengan sekali gerakan mereka menangkis, sekaligus merampas golok dengan gerakan cepat, berkelebatan seperti tiga naga sakti mengamuk.  

Sekejap terdengar pekik kesakitan susul menyusul, golok beterbangan delapan penjuru.Pemimpin dan anakbuahnya rebah terkapar dalam keadaan tertotok, terpukul dan tertendang yang tak mungkin bangkit dalam waktu cepat. 

Petilan atau sebagian dari kisah dunia Kangouw tentang kehebatan tiga pendekar naga karangan penulis legendaris Kho Ping Ho. Naga adalah makhluk legenda dari budaya Cina yang melambangkan kekuatan dan bertuah. Naga itu sakti sekaligus dianggap menjaga manusia baik melawan segala bentuk perilaku jahat. 

Barangkali itu yang membuat sembilan orang terkaya di Jakarta, dan bahkan di Indonesia disebut Sembilang Naga.  Terkenal, beken di Jakarta, dan dianggap mengkhawatirkan dunia usaha. Bahkan salah satu isu kampanye adalah tidak boleh membiarkan sembilan naga makin menancapkan kuku pengaruhnya. “ akan kami buat dunia usaha tidak dikuasai oleh mereka, tetapi banyak naga naga yang lain.” Demikian bunyi kampanye.  Intinya dunia usaha harus lebih berkeadilan. 

"apa ada hubungannya dengan sembilan naga koh?" suatu sore duduk ngobrol bareng asun di gang depan kiosnya di pasar pagi lama.  Sebab nama kiosnya “Naga Sakti” 

"wah nggak lah, tapi itu yang kasih nama orangtua saya." kata si engkoh buru buru. "jauh banget kios saya dibanding para orang orang di sembilan naga". sambil menunjukkan barang yang dijualnya.

Sundjaya alias Asun, namanya masih menggunakan ejaan lama, mestinya dia lahir belum ada penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan atau EYD.  Berdagang sudah tiga generasi di situ, jualan Alat tulis Kantor atau ATK, stationary dan segala keperluan kantor . 

Kios warisan peninggalan bapaknya. Ada tiga kios di beda tempat, satu untuk dia, satu untuk cici (kakak perempuan) nya,  satu lagi kios tempat usaha ibunya. Cicinya pegang kios di jembatan lima jualan perabot rumahtangga, ibu nya buka warung bakmi dekat situ. 

“saya sekarang hanya jaga kios aja, anak saya yang urus jual beli barang.” Pekerjaan yang dilakoni setiap hari dari pagi sampai petang jaga kios, pegang kasir, hitung pemasukan setiap hari. Semua untuk kebutuhan rumah dan keluarga kata Asun. Sementara Hendra, anaknya berhubungan dengan konsumen, suplier dan tetek bengek urusan pihak luar. Dia sore itu memang sibuk di kios melayani pembelian grosiran dan eceran siang itu. Anaknya sudah ikut dia di kios sejak masih SD. Pulang sekolah mampir di kios bantu bapaknya berjualan. Sudah waktunya anaknya ambil alih usaha.  

Hendra sudah dibiarkan menghitung anggaran belanja, mencari terobosan, inovasi berkreatif. Bahkan pengakuan Asun, Hendra jauh lebih hebat dari dia. Menghitung anggaran rinci, tidak gelondongan, jadi tahu apa saja yang dibelanjakan dan keuntungannya. Lebih mudah melakukan pengawasan kalau ada barang yang hilang, sengaja atau tak sengaja. Dua karyawannya tak berkutik, terpaksa melakukan gerak jujur, sebab bos muda nya itu tahu barang yang laku dan yang masih tersimpan. 

Pelanggannya sekarang bukan saja dari Jakarta, tetapi sudah jawa. Jawa harus dikuasai. Kira kira itu yang ada dalam visi misi Hendra. Memakai teknologi canggih online, media sosial untuk menjangkau pelanggan. Dengan media online kios naga sakti mempunyai langganan tetap di Bogor dan Bekasi.Rencana mau merambah daerah lain.  Bersaing, tentu saja, kata Hendra. Bergerak jujur dan mendapat kepercayaan pelanggan adalah modal utama, dan harga yang dipertaruhkan dalam bisnis ini. 
Kalau memang niatnya kuat, apalagi masih muda, kemajuan bisnisnya bakalan terjadi. Sudah nampak depan mata, pemilik generasi ketiga itu tak pernah berhenti duduk manis. Tak ada yang belanja, adalah waktu menghitung sisa barang yang ada. Pekerjanya disuruh membuat daftar barang yang sudah habis atau nyaris habis, untuk segera mengusulkan pembelian. 

“sebenarnya enak bekerja dengan bos muda, kita bisa belajar. Capek seperti tanpa istirahat, tetapi penting suatu saat kalo mau buka usaha, sudah tau apa yang dilakukan.” 
Kata  Hendra, dia tidak menginginkan anakbuahnya terus bekerja di situ, hanya terima gaji saja sampai tua. Di kios ini bukan kantor kementerian, bekerja seperti birokrat, datang pagi duduk duduk sore pulang. Di sini tidak mengenal duduk manis terus terima pensiun.  

Tidak perlu kampanye membuat dunia usaha berkeadilan, yang lebih perlu dan penting adalah bekerja keras, meraih kepercayaan. Suatu saat nanti tidak Cuma sembilan naga, tetapi ratusan naga berkeliaran tidak saja di Indonesia, tapi di dunia.

Pelanggan

Walau mengalami keuntungan besar dalam satu minggu ini, dan bahkan diproyeksikan meningkat dengan margin error kurang dari satu persen, tetapi dia terkejut dengan berita media.  Koleganya di salah satu pusat perbelanjaan rugi besar. Konon sok pilih pilih pelanggan. 

Dia beruntung dan tetap percaya bahwa dalam bisnis kuliner harus melakukan 3 hal, yakni. Rasa, Resik dan Ramah. Dia menggunakan istilah Tri Azimat, istilahnya Bung Karno.

Syukur sampai sekarang bisnisnya masih eksis, bahkan makin lama makin merambah ke tempat tempat lain. 

“Dalam bisnis itu pelanggan tidak boleh dibeda bedakan. Ini prinsip.” Katanya di sela sela kesibukan melayani tamu. 

“pake telor, tempe orek, tongkol balado, terus apa lagi” mengulang permintaan pelanggan.

“sayurnya kacang panjang atau sayur asem?” 

 “Lebih dari delapan tahun saya terapkan Tri Azimat” Dari prinsip ini katanya anak anak sudah tamat universitas, rumah di kampong sudah jauh lebih baik, dan banyak lainnya. “Dari bisnis ini hidup saya menjadi lebih baik.”

“sampe sekarang saya menolak ditawari bisnis bakeri” katanya sambil cuci piring. “hanya ada jajanan pasar saja di sini. Itu juga titipan orang.” 

Menutup obrolan, dia mengatakan terus terang, konsumennya tidak terlalu suka dengan roti.istilahnya “nggak nendang”. Lebih baik bisnis warteg, maju bisnisnya, bahagia pelanggannya.

Kue Mangkok

Kue mangkok, apalagi warna pink, sejak dulu jadi favorit. Ukuran besar, kecil, sedang, sama rasanya. Tinggal perut muat apa nggak. Lebih nikmat kalo dibarengi teh hangat atau kopi.

"Jajanan kue lain?"

Namanya jajan pasar semua enak. Ada lemper, cucur, arem arem, nagasari, serabi, banyak lainny.  Pas banget. Ada manis, asin, pedes. Ada yang dikunyah bunyi kriuk kriuk.  Kalo soal jajanan sorga banget. 

Sorga memang diciptakan manusia melalui jajanan. Jajanan orisinil yang bertahun tahun tak banyak mengalami perubahan. Jajanan yang sudah mengalami evolusi sampai gak ketahuan lagi asal usulnya. 

"Jangan salah" dibalik jajanan itu mengandung aneka resep, dibalik aneka resep mengandung pengetahuan, pikiran, eksperimen, tukar tukaran pengetahuan, coba sana sini, adu kreatif. Dibalik semua, ada perubahan kebudayaan melalui evolusi dan difusi enteng entengan

Kopi Robusta

Memang jodoh nggak kemane. Mampir kafe, pesen kopi robusta, tak diduga ternyata ada. Tadinya sudah siap siap, ngeloyor pergi. Kafe di mall jarang tersedia kopi rubusta.
  
Pernah ada kafe ternama menyediakan kopi robusta, menggunakan istilah kopi tubruk. Harganya terpampang sepuluh ribu rupiah. Kopi paling murah disbanding deretan jenis minuman hangat yang ditawarkan kafe itu yang rata rata, tiga puluh ribu sampai lima puluh ribu.  Sayangnya, entah kenapa tak pernah ada lagi kopi tubruk di kafe itu, jangan jangan pelanggannya hanya satu orang. 

"Saya pesan kopi robusta. Ada?" Di kafe pelataran lantai dua, salah satu mall jakarta selatan. 

" Kopi robusta. Ada om, tiga belas ribu rupiah om"

"Oke, pesen satu, kopi hitam. kopi robusta kan ya, gulanya dipisah."

"Siyap om".  Lalu  Saya keluarkan uang lima puluh ribu, dari dompet, berikan ke kasir. Tradisinya minum kopi di cafe mall adalah bayar dulu baru dapet kopi.

"Ada uang pas om? Gak ada kembalinya." Setelah liat uang lima puluh ribuan. Wah belum dapat kopi aja udah ribet soal bayar membayar. 

Uang lima puluhribu rupiah saya kantongi lalu saya  memberi Dua puluh ribu.

"kembali tujuh ribu om."

" Eh  saya pesen aqua ini ya" sambil nunjuk botol beling isi aqua. 

"harga delapan ribu, om. Jadi  kurang seribu. " Saya berikan dua ribu. 

" kembaliannya uang receh ya om." Hari gene tidak mudah dapat selembar seribuan.

Saya mengangguk, dia beri uang dua ratus rupiah koin yang ditumpuk dan disolatip bening. 

Lalu menyuruh pegawainya bikin kopi pesanan saya, sambil ketak ketik, mesin kasir bunyi, jegrek laci otomatis terbuka, nongol di layar total yang harus dibayar 21 ribu rupiah. Lalu otomatis keluar nota lunas, lalu menyerahkan tanda bukti ke saya. Dia menatap dan senyum lebar sambil bilang "kami hanya jual kopi satu jenis saja. Robusta.”

Iseng pengen liat cara bikin kopi, nggak repot soalnya. Pertama, sipembuat isi teko tanpa penutup dengan isi air panas, dimasukan kopi bubuk, lalu teko ditaro di tungku, yang atasnya ada wadah seperti penggorengan berisi pasir. Teko dipendam separo di pasir panas itu, teko digeser sana sini. lalu di tuang di gelas, lalu siap saji. 

"Kok proses bikin kopi rumit amat bro?"

Ini kopi robusta, jadi harus dimasak di atas pasir panas supaya aroma kopinya keluar."

Saya mendekatkan diri ke tungku mencoba membaui Kok nggak kecium wangi kopi. Cuma bau biasa saja, . Bau kopi apek yang kelamaan disimpen di karung. 

Memang kopi robusta kalah jauh dengan Arabika dalam hal harum aroma kopi.  Kalau liat iklan kopi di televisi pasti itu kopi arabika, sebab ekspresinya tersenyum senang. Kalau soal mau tahan nggak tidur, minumnya Robusta. Sebab kopi ini mengandung kafein yang dua atau tiga kali lebih tinggi dibanding arabika. Katanya karena kafein tinggi, makanya rasanya pahit. Sederhananya, robusta pahit, kafein tinggi, bau biasanya aja, Arabika rasa asam., kafein rendah, bau harum. Kalangan pebisnis biasanya mencampur dua jenis kopi itu untuk mendapat pahit, asam dan aroma kopi yang wangi.  

Namanya pebisnis, sungutnya tajam,  tau isi hati pelanggan. Tau apa maunya pelanggan. Dia tidak menawarkan yang ekstrim sebab  pelanggan umumnya gak suka suka yang ekstrim. Nggak suka pahit banget, nggak suka asem banget. Solusinya ya memang mencampur dua jenis kopi itu, hasilnya nggak pahit amat, nggak asem banget.

Pekerja Komuter

Selagi nggak ada pelanggan yang datang, ngobrol dengan Denny, anak muda, Sales mobil merek Amerika di Mall besar dan eksklusf. Eksklusif karena Mall nya relative terpencil dari rute kendaraan umum.  

“Den, tinggal di mana?”

“saya kos di Pondok Indah” 

“keren dong, kos nya pondok indah.”

“Nggak om, numpang sama temen, yang nge kos di situ. Bukan pondok indah beneran om, pinggiran pondok indah.” 

Saya nggak nanya lebih lanjut, hanya menduga duga saja, mungkin di sekitaran pondok pinang dan jalan kebayoran lama. 

“lumayan lah gak jauh dari sini.” 

“iya om, nggak jauh juga dari kantor. ”

“Kalo dari rumah kejauhan. Dulu dari rumah pake (sepeda) motor, tiap hari, lama lama nggak sanggup.”

“ harus masuk kantor absen jam 8 pagi, berarti dari rumah mesti subuh.”

“emang rumah di mana Den?” 

“Di Bogor om “ 

“Kenapa nggak naik kereta aja, kan banyak kereta. Emang bogornya di mana Den?”

“Leuliwiang om, ciampea masih ke sana lagi, masih jauh. Antara Leuwiliang-leuwisadang. “

Supaya gampang memang bilang saja rumahnya di Bogor kata Denny. Padahal bogor ke rumahnya si Denny  nggak dekat. 
Saya ngangguk saja mendengar keterangan lokasi rumah Denny. Belum bisa membayangkan seberapa jauh dan seberapa susah akses kereta atau transportasi public untuk pulang pergi kantor- rumah. Menurut Denny masih dua puluan kilometer dari kota Bogor. Kalau malam katanya lebih cepat, tetapi kalau subuh, karena barengan dengan orang orang yang ke Jakarta, lebih lama, jalanan padat. 

“transport ditanggung perusahaan?”

"Nggak om, transportasi, konsumsi tanggung sendiri, makanya saya numpang saja ke tempatnya temen, irit ongkos dan tenaga.”

Bukannya promo dan menjelaskan mobil amerika, Denny malahan cerita soal pengunjung di sini.

“pengunjungnya tidak saja orang yang tinggal deket sini saja, tapi banyak dari tempat yang jauh.” Kata Denny. Katanya dalam seminggu ini calon pembeli Danny banyak yang dating dari Bogor, Tangerang dan Bekasi.

“Kemarin ada orang yang tinggalnya di Cikeas, Kota WIsata”.

Bukan Cuma Denny yang harus mondar mandir untuk bekerja di Jakarta. Pagi harus ke kantor, lalu ke tempat pameran untuk menawarkan produk barang atau jasa. Biasanya di Mall di berbagai macam lokasi di Jakarta. Beruntung kalau Mall nya dilalui oleh bis tiket murah, semacam Trans Jakarta atau Commuter line alias KRL Jabodetabek. Tak beruntung kalau tempat kerjanya beberapa kali naik kendaraan umum dengan ongkos mahal.

Belum lagi urusan makan. Para pekerja harus menghemat, sekali dua kali bisa saja makan di resto resto yang tersedia di mall. Tetapi sehari hari kebanyakan makan di kantin pegawai yang tersedia, kadang di basement, kadang di building yang berbeda. Kalau terlambat makan, makanan kantinpun sudah habis atau pilihan terbatas. Warung warung dekat situ kadang saja ada, beberapa mall saking eksklusifnya steril dari warung makanan murah. 

Begitulah bekerja di kota besar, saya percaya ahli tata kota dikerahkan bukan Cuma menata bangunan, tapi juga menata akses bagi warga dan pekerjanya, termasuk urusan transportasi, akomodasi dan konsumsi. Cuma solusi soal ini dari tahun ke tahun belum memberi harapan yang cerah.

Wisata Sejarah

Ansje Suurbier puas jalan jalan di kota tua, ke sana kemari foto foto bangunan museum, atraksi, penyanyi, musik jalanan. Menjajal sepeda warna warni, berfoto bersama orang yang seluruh badannya dicet abu abu gelap. Tanya macem macem soal bangunan. Siapa punya, kapan dibangun, sekarang jadi apa. 

Wisatawan asal Belanda usia 40 tahun bersama suaminya Wiem, sudah dua hari keliling kota jakarta. Ikut dalam rombongan wisata keliling Jakarta. Hari ini setengah hari saja, karena mereka mau ke Bogor, liat kebun raya dan Istana Bogor. 

"Bogor kota indah" begitu kata oma dan opanya yang pernah tinggal di Bogor. Konon buyutnya salah satu insinyur yang ikut dalam proyek bikin rute kereta api kota-Jatinegara-depok-bogor. Ia penasaran pengen merasakan perjalanan jakarta bogor dengan kereta api. Konon Pembangunan rel kereta api lintas Jakarta-Bogor selesai akhir abad 19 oleh perusahan swasta Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Lebih dari seratus tahun semenjak dibangun dan menjadi transportasi utama jakarta bogor. Ansje dan Wiem, sudah duduk manis di kereta, bukan kereta tenaga diesel, tapi kereta tenaga listrik KRL yang jadwalnya setiap 15menit sekali. Kereta listrik yang juga dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menghubungkan dua istana gubernur jenderal Batavia dan Buitenzorg.  

Tiba di bogor, stasiun bagus, lalu mengambil foto beberapa bangunan stasiun dan sekitarnya. Para pedagang, toko toko, mirip seperti gambaran cerita neneknya tentang bogor. Mungkin neneknya waktu itu menggambarkan bogor yang masih lengang. Belum banyak pedagang kakilima, mungkin waktu dulu hanya toko kelontong saja. Tapi gambaran  pedagang buah, makanan, menawarkan kepada orang yang lewat depannya masih ada. Tetapi tidak banyak lagi yang berpeci dan sarungan seperti kata neneknya.

Sedikit sedikit mencoba komunikasi dengan pedagang itu, dengan bahasa tubuh, menebar senyum ke pedagang yang menyapanya. Ada pedagang mangga, yang dibakulnya ada tumpukan buah itu, satu dua yang dikupas memperlihatkan isinya berwarna kuning kemerahan. Tidak beli tapi berjanji dalam hati mau coba buah itu setelah di hotel. Mangga kesukaan neneknya, katanya mangga indonesia yang paling enak di dunia.

"Yang penting jadwal kita liat istana dan kebun raya kita." Wiem hanya mengangguk, naik angkot ke sana, semula mau naik gojek, tapi ansje bersikeras angkot, biar merasakan ramainya kota bogor. 

"Sudah terlampau sore untuk masuk botanical garden" kata Wiem. "Besok saja". Dua orang itu hanya mengelilingi istana, liat dari luar, sampai depan pasar pecinan, suryakencan, menelusuri trotoar, cari makanan mengisi perut yang sudah keroncongan. 

Duduk di situ, baca tourist guide tentang Bogor yang dibawanya dari kampungnya di Belanda. Mereka rencana menghabiskan waktu di kota ini. Bermalam di hotel Salak yang konon, hotelnya elite Belanda di Batavia yang berlibur di Buitenzorg. Kepengennya di hotel Bellevue yang indah dengan view lembah, sungai Cisadane dan  gunung salak, sayangnya sudah dihancurkan ganti bangunan lain. 

Selamat datang di kota Bogor welkom, yang tertulis di papan bilboard ketika masuk lobby hotel pas hujan deras di kota itu, kota yang populer disebut kota hujan.

Trans Jakarta Tidak 24Jam

Deposit e-money sisa empat ribu rupiah, mesti beli lagi. Buru buru ke terminal, di situ sudah sepi, para aneka pedagang makanan, pakaian,  aksesoris sebagian sudah bebenah mau tutup, dan sebagian besar sudah tutup. Cepat cepat ke  loket. 

“maaf pak, loket sudah tutup jam 22.00”

“nggak bisa isi deposit lagi pak” tanya saya berharap. 

“petugas sudah pulang. Saya nggak wewenang. Tapi kalo masih sisa empat ribu masih bisa kok.”

“rute blok m manggarai sudah nggak ada. Tinggal blok m kota. Nanti bapak turun di bendhill dan sambung lagi jurusan pgc. Masih ada untuk jurusan itu.” 

“oke pak, terima kasih”

Berlari ke pintu masuk, scan kartu e money, rasanya agak lambat respon scan nya, tapi syukur bisa lolos, dengan langkah cepat naik tangga dua tingkat, ke halte jurusan blok m kota yang letaknya paling pojok dan di atas.
Untung saja masih ada bis. Katanya jurusan ini sampai jam 24.00. duduk menunggu, akhirnya bis berangkat. 

Tak berjejal jejalan dalam bis, hampir jam 11 malem, sudah tak banyak penumpang. Tak lama sampai benhil, memang tak macet jalur busway. Yang lama jalan kaki dari bendhil ke halte semanggi. Jalan panjang di jembatan yang menghubungkan benhil dan semanggi. Ngos ngosan sesampai di halte itu. 

Tak lama bis Pluit-PGC sampai, langsung naik. Ternyata dalam bis padat penumpang  tak kebagian tempat duduk. Ah gak akan makan waktu lebih dari sejam. Masih kuat berdiri. Turun di halte UKI, setelah dapat info dari kondektur, jurusan cibubur sudah tak ada lagi, jurusan itu terakhir jam 10.30. sudah tahu, tapi tetap saja kecewa karena berharap masih ada sisa bis jurusan sana. Harusnya satu halte lagi setelah uki- halte bkn- yang membawa bis jurusan cibubur. 

Naik taksi dari UKI, rileks saja, menunggu sopir merokok. Dia sudah siap anter saya setelah hisapan terakhir yang rokoknya masih cukup panjang.

“mari pak. Silahkan”

Taksi langsung melaju melalui jalan tol jagorawi. Tanya dulu apakah punya e-money untuk bayar tol. Siyaap katanya. Duduk depan, stel bangku agar mundur, turunkan sandaran, lalu merem sejenak. Ngantuk ngantuk, diajak ngobrol sopir, menanyakan arah setelah keluar tol cibubur. 

“ isteri saya, hamba Tuhan. Dia jadi pendeta GBI” terus saja dia cerita, saya hanya mendengarkan. Gerejanya di Kampung Rambutan. Belum banyak jemaatnya, semakin hari semakin banyak. 

“nanti putar balik ya bang.” Setelah keluar dari pintu tol, ambil jurusan cileungsi. Putar balik yang kedua. Lalu masuk ke jalan samping studi Karnos. “o saya tahu itu” 

Sampai di rumah dengan selamat. Perjalanan panjang dari Blok M sampai Cibubur. Kalau saja, pulang tak terlampau larut, bisa sambung menyambung dengan Trans Jakarta. Ongkos murah, hanya tiga ribu lima ratus bisa keliling Jakarta. Asalkan tak keluar dari halte. 

System transportasi Jakarta sudah mulai ditata dengan baik. Setiap halte ada informasi di monitor. TJ yang akan datang atau masuk di halte itu apa saja dan waktunya sudah kelacak. Setiap bis sudah dilengkapi dengan GPS yang bisa diketahui posisinya. System sudah oke, rasanya hanya perlu menambah armada untuk trayek yang beroperasi tengah malam. 

Jakarta kan nggak ada matinye, warga yang tinggal di pinggiran Jakarta juga pengen menikmati dengan ongkos murah.

Cahaya

Cahaya

Cahaya yang memungkinkan mata menangkap bayangan benda-benda di sekitarnya. Cahaya adalah komponen penting dalam fotografi. Cahaya juga dipakai untuk mengukur jarak dari pusat galaksi bimasakti ke bintang. Saking jauhnya bintang,  sulit atau ribet menghitung dengan satuan kilometer. Lalu para ahli menggunakan  satuan cahaya . Seperti apa satuan cahaya dan bagaimana menghitungnya kurang paham. Pokoknya Satu tahun cahaya sama dengan berjarak 9triliun kilometer. Kalau bintang yang paling deket jaraknya empat tahun cahaya, berarti jauh banget benda itu. 

Cahaya memang luar biasa, visioner,  jangkauannya melampaui zaman. Karena itu nama cahaya jadi prioritas memilih tempat. Masalahnya ada dua nama tempat yang mengandung arti cahaya. Pertama adalah Nur Mala ada unsur makna cahaya. Satu lagi secara tegas dan  lugas bernama cahaya. Kalau dari satuan jarak Nur Mala lebih dekat dibanding cahaya dari rumah tempat tinggal. Tetapi pilihan saya pada tempat yang bernama Cahaya. 

Dikelola oleh dua orang muda, usia tak lebih dari tiga puluh tahun asal Tasikmalaya, pangkas rambut Cahaya sudah cukup dikenal di kampong kami. Kabarnya, seperti pengakuan dari pemangkas di situ pemiliknya adalah orang Garut. Bagaimana pembagian keuntungan dan modal yang diinvestasikan pada pangkas rambut Cahaya di jalan utama ini, tidak menjadi bahan obrolan. 

“model potong rambutnya gimana pak?”  

“seperti potongan rambut kamu boleh juga.”

“berarti pendek pak.”  Langsung mengganti  gunting dengan alat cukur. Mulai mencukur sisi kiri, dari samping kuping, cepat sekali dalam waktu singkat seluruh rambut bagian tepi sudah terpapas. Dengan gunting mulai menggarap bagian atas. Dalam waktu kurang lima belas menit drama cukur mencukur selesai.

“cambang dikerik pak?” 

“Iya dong.”   Langsung saja, keluarkan pisau setajam silet, asah dengan kulit yang digantung dekat cermin, lalu mulai mengkerik. Sebentar saja selesai. Lalu membuka kain penutup badan sebagai penyangga jangan sampai sisa rambut mengotori pakaian.  Menyisakan handuk kecil merek good morning di leher, pemangkas mengeluarkan keahlian memijat. Mulai pijat pelan kepala, lalu turun ke leher, bahu, dilakukan berulang ulang dan selesai. 

“Berapa pak?”

“delapan belas ribu.”

“kembali dua ribu pak”

“gak usah simpan kembaliannya.”

“Terima kasih pak.”

Pamitan, keluar pekarangan pangkas rambut Cahaya, menuju parkiran, lalu starter sepeda motor, putar balik, on the way ke rumah. Panas sekali siang itu.

Arca Ganesha

Prianto sedang menggali septic tank di pekarangan rumahnya ketika menemukan arca yang tertimbun tanah. Tentu saja tanpa sengaja, saat cangkulnya membentur benda keras yang kemudian diketahui sebagai arca berbentuk gajah gendut berbelalai besar. Gempar warga Kediri. 

Dimin warga Nganjuk menemukan patung yang berbentuk sama dengan yang ditemuian Prianto di Kediri. Seorang warga Malang pun demikian. Warga di Tiga daerah, Kediri, Nganjuk dan Malang menemukan arca setinggi Tiga puluh sentimeter, lebar dua puluh sentimeter berbentuk patung gajah berbelalai. Dalam sejarah persebarannya barangkali banyak bagian lain di Jawa Timur ditemukan arca ganesha atau  arca dewa Hindu yang lain. 

Temuan arca zaman Hindu atau Budha di nusantara masih memerlukan kajian serius untuk merekonstruksi seperti apa Jawa dan nusantara  saat itu. Itu jelas kerjaan yang nggak singkat dan perlu  tenaga ahli dan biaya yang besar. 

Lalu Ganesha itu apa? Dia adalah salah satu dewa terkenal dalam agama dan budaya Hindu. Ganesha simbol  dewa pengetahuan dan kecerdasan, dewa pelindung, dewa penolak bala/bencana dan dewa bijaksana. 
Dewa ini idola banget, cerdas, pengetahuan luas, bersifat melindungi dari bencana, jadi tameng tolak bala, dan bijak dalam mengambil keputusan. Luar biasanya dewa ini.

Sayang dewa Ganesha tak pandai berpolitik, tak pandai ngeles, berkelit bicara seolah sedih, marah, kadang perlu membentak, kadang perlu meneteskan air mata. Sayangnya dewa ganesha tak berprinsip kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah. Kalau ditanya yang mudah, jawabnya harus rumit, harus mampu bicara sana sini, membelok kanan kiri, melingkar lingkar, seperti coratan anak paud di dinding rumah, ruwet tak ada ujung. 

Dalam kapasitas yang minim politik,  dewa Ganesha atau semacamnya jelas tidak bakalan laku dan  jangan bermimpi dipuja puji

Motret dari jendela Trans Jakarta

Motret sebagian kota jakarta melalui jendela bis Trans Jakarta. Itu terjadi lebih dua tahun lalu. Sekitar pertengahan 2017, beberapa bulan setelah pasar senen ludes terbakar. Pembangunan MRT masih berjalan, beberapa ruas jalan di Sudirman Thamrin mengalami penyempitan karena bagian tengahnya sedang digali untuk jalan bawah tanah atau subway.  Gubernur DKI masih Ahok yang lagi sibuk  rencana penanggulangan banjir membangun banjir kanal timur dan barat, membangun waduk pluit. 

Ternyata sudah lebih dua tahun seperti baru kemarin. Menikmati jalan jalan keliling Jakarta dengan Transjakarta,  kendaraan super murah. Dengan tiga ribu lima ratus sudah bisa keliling Jakarta. Sampai sekarang masih tak berubah. Mungkin  motto pejabat DKI adalah sekali tiga ribu lima ratus tetap tiga ribu lima ratus. Orang seperti saya akan menyambut dengan tempik sorak tak henti henti. 

Menikmati pemandangan kota, tidak perlu turun dari bis, cukup liat ke kiri dan ke kanan, walau tak seperti pemandangan di lagu naik naik ke puncak gunung. Ya, tentu saja beda, lagu itu diciptakan pengarangnya membayangkan darmawisata atau jalan jalan ke gunung. Ini jalan jalan di kota. Entah apakah sudah ada lagu yang diciptakan untuk mereka yang menggunakan Trans Jakarta keliling kota? Yang jelas lagunya pasti beda banget bro. 

Brangkat pagi, dan masih pagi di halte Cawang. Dari situ memilih rute Cawang Harmoni, melalui kampung melayu, jatinegara pasar senen. Sampai Harmoni, pindah rute Harmoni-Blok M. Rute yang banyak meninggalkan bangunan sejarah, sebagian masih berdiri kokoh sebagian sudah rusak tak terpelihara. Sebagian masih bersanding bangunan kuno dan moderen, sebagian besar sudah ganti total. 

Beruntunglah warga jakarta sekarang. Ada kendaraan umum, harga sama dimanapun kita beli. Bayarnya pake kartu dapat dibeli di setiap halte. Apa nggak enak tuh, ringkes gak perlu kasih duit gede, dan bingung nagih kembalian yang lama nunggunya.  Dulu banget, enggak.banget juga, naik bis kasih uang besar deg degan nunggu kembalian. Minta kembalian, kondekturnya jauh di bagian depan, susah ke depan karena penuh penumpang. Biasa harus teriak minta kembalian sebelum turun di halte berikutnya.  Uang kembalian pun nggak sempat di hitung, keburu turun bis, dan bisnya langsung tancep gas. Tak jarang baru satu kaki menjejak aspal, bis udah jalan. 

Lagi cerita dulu, ada halte bis, tapi bis berenti sebelum halte. Sopirnya liat, kalo di halte sepi sementara di tempat sebelum halte rame penumpang, sudah pasti bis berenti di rame penumpang. Ada istilah penumpang gelantungan di pintu bis, bisnya jadi miring,  itu terjadi zaman Jakarta my lovely city. Biar brengsek transportasinya  tapi orang tetap pakai transportasi itu. Jelas  karena itu kendaraan satu satunya, jadi suka gak suka ya harus suka. Soal HAM hak Asasi Manusia waktu itu belum laku seperti sekarang.  Yang jelas berangkat necis sampai tujuan kucel, akibat berhimpitan dalam bis sepanjang jalan. Ini sih subyektif saja, sekarang juga Trans Jakarta masih penuh sesak, bedanya dulu Angin Condition sekarang Air Condition dalam bis. 

Melalui kaca jendela Trans Jakarta, menikmati kota Jakarta. Sambil bersenandung, 

"ini dia si jali-jali
lagunya enak lagunya enak merdu sekali
capek sedikit tidak perduli sayang
asalkan tuan asalkan tuan senang di hati"

Banda Naira

Banda Naira
Baru hari ketiga, di pagi hari rombongan kami, beneran menjelajah dan menikmati kepulauan Banda Naira. Hari pertama, siang hari mendarat di Ambon, masuk hotel, jalan jalan sekitar ambon melihat pengrajin tenun, berkeliling makan makanan khas Maluku, mampir di toko cinderamata, mutiara dalam ragam anekanya. Pagi hari sudah berangkat dengan kapal cepat menuju banda naira yang makan waktu lima jam, menghabiskan siang hari dengan berkeliling diseputaran Banda Naira untuk mengunjungi situs-situs budaya peninggalan masa lalu. Rumah Sjahrir, rumah Hatta, museum, rumah saudagar rempah Belanda, pasar, pelabuhan, gereja yang sekelilingnya ada bangunan kuburan tua. 

Hari ketiga yang sesungguhnya merupakan wisata sejarah, politik dan budaya. Dengan perahu kecil bermotor, ke Banda Besar, bagian dari gugusan kepulauan Banda. Sandar di Dermaga, memasuki wilayah desa Lonthoir, deretan rumah kiri kanan, utaranya gunung, selatannya laut. Hanya dengan jalan kaki  pemukiman tak padat penduduk sudah dijelahahi sepanjang siang. 

Lonthoir atau Lonthar, atau Lontar, yang mana yang benar entahlah, caranya menyebut dan berbunyi sama. Daerah yang bernilai penting dalam sejarah. Daerah yang  menjadi sumber percekcokan, konflik antarbangsa Eropa dan bangsa Eropa dan bangsa Banda. Sumbernya adalah Pala, rempah yang amat mahal harganya di pasaran Eropa. 

Pulau ini seluruhnya adalah tempat tumbuhnya pohon Pala yang sekarang dibudidayakan dengan pengaturan penanaman bersanding dengan pohon Kenari. Pala dan Kenari ditanam berdampingan. Kabarnya kenari adalah tanaman yang dapat melindungi tanaman pala dari panas matahari dan curah hujan yang langsung. Pala tidak dapat tumbuh subur bila langsung di bawah sorotan matahari. Intrusi sinar matahari yang masuk dari cela pepohonan bagus sebagai spot foto. 

Lonthoir jadi incaran  Belanda, atau para saudagar Belanda. Berduyun duyun menumpang kapal menjalin hubungan bertemanan, dagang, dengan penduduk lokal. Bukan cuma Belanda, dan memang bukan Belanda yang pertama masuk ke Banda Naira. 

Bangsa Portugis yang pertama masuk ke kepulauan Banda Naira, menjadi bangsa Eropa pertama ke daerah itu. Portugis puluhan tahun sebelumnya sudah jadi rekanan dagang dengan bangsa bangsa di dunia di daerah Selat Malaka yang kala itu jadi pusat perdagangan di Asia (Tenggara). Komoditas rempah, biji dan bunga pala jadi bagian dan penting dalam perdagangan di situ. 

Beberapa pejabat tinggi portugis mencari tahu asal usul komoditas itu, lalu mengajak, mungkin juga mamaksa setelah penaklukan,  militer (kemungkinan dari Batavia ke daerah timur, Banda Naira utamanya. Berdagang di sana beli rempah di sana, jual di Eropa, entah Portugis setengah hati, sebab  kongsi dagang portugis tak bertahan lama. Mereka lebih memilih berdagang jual beli rempah di Malaka yang wilayah Portugis daripada di timur yang tak dapat dikontrol, atau kemungkinan daerah maluku memang tak aman buat berdagang. Jadi memilih Malaka, walau mahal tapi mudah.

Catatan dari portugis membenarkan bahwa ada jaringan perdagangan dari utara ternate tidore sampai ke Banda, dengan  produk utama rempah dan cengkeh, yang ditukar dengan produk pakaian peralatan (1512). Jaringan itu yang mengikat utara tengah dan selatan, dengan bahasa dagang, bahasa lingua franka. Orang Ternate Tidore kerja di Banda Naira, juga sebaliknya. 

Walau membangun benteng portugis di sana, tetapi perang terus menerus tak sehat untuk berdagang, apalagi sejak pembangunan benteng bukannya lebih damai tapi jadi bibit permusuhan dengan penduduk setempat. Serang menyerang yang melelahkan bertahun tahun. Sejak saat itu, orang-orang Portugis jarang mengunjungi pulau-pulau lebih suka membeli pala dari pedagang di Malaka. 

Sepertinya Portugis tidak ada niat membangun koloni di Banda Naira, tidak serius bangun pelabuhan, apalagi mendirikan pemerintahan di sana, atau karena penolakan terus menerus dari orang Banda, mulai dari tak rela Portugis membangun pos permanen. 

Lain halnya dengan Belanda, kosongnya kontrol akan kepulauan itu, menjadikan belanda.masuk ke situ, berdagang, daripada dagang di daerah utara, ternate tidore. Perdagangan Belanda lebih langgeng walaupun sejak awal hubungan sosialnya saling menghindar, cenderung membenci. Hubungan dagang tapi tak saling percaya. Belanda menyalahkan Banda yang tak taat kesepakatam dagang, sementara banda menyalahkan Belanda yang menjual komoditas yang tak diperlukan. Kabarnya orang Banda atau Maluku umumnya oke saja  berdagang dengan siapa saja, yang tak disenangi adalah rempahnya ditukar dengan bahan komoditas yang tidak biasa. Orang Banda menjual rempah dari pedagang portugis, india, arab dan jawa, mendapat peralatan tembaga, obat obatan, porselein yang berharga. 

Sulit negosiasi harga bukan saja dengan penduduk lokal, juga dengan sesama saudagar belanda, sampai satu titik harga komoditas tak mampu menutupi ongkos transportasi. Pendek cerita semua pedagang belanda yang ke sana sering rugi. Lalu antarpedagang sepakat membentuk kongsi dagang VoC. Dengan kongsi dagang bersama, harga stabil, pengiriman barang lancar, jalur transportasi Eropa Banda.Naira terjamin, sepertinya masa ini semua pihak sama senang. Ada Lembaga dagang, ada penanggung jawab belanda di tempatkan di sana, ada elite banda yang memerintah. Perwakilan dagang belanda dan elite banda bergaul punya kepentingan beda. Ini perlu referensi kenapa bisa langgeng. 

Masa itu rempah jadi sangat mahal dan dibutukan bukan cuma.eropa. bahkan india.import dua kali lebih banyak dari eropa. Konon kabarnya Belanda mulai tidak telaten dengan kerjasama.dagang dengan Banda, dia mau monopoli. Keuntungan berlipat ganda di depan mata bikin mata gelap. Prinsip perdagangan diabaikan. Membujuk elite (pedagang) banda teken kontrak kesepakatan membiarkan belanda monopoli beli rempah. Sebagian sepakat, walau belum tentu paham, sebagian lainnya tak setuju. Mereka yang tak setuju ini dipakai Belanda untuk mendatangkan pasukan menjaga (perdamaian) perdagangan (monopoli). Alasan Belanda saat itu ada pemberontakan elite yang menyebabkan puluhan warga Belanda tewas. Seperti apa ceritanya perlu baca refensi lebih banyak. 

(Kisah Ini diambil kebanyakan dari google. Masih bersambung menyambung dengan petilan kisah lain di Banda Naira. Keliatan dimanapun, kapanpun, saudagar, elite politik dan penguasa bisa mencapai kesepakatan dengan cara lembut, sogok menyogok, pergaulan, bisa cara keras, ancaman todongan senjata) -- bersambung

(Cerita berseri jilid I)

Wayang Orang

Wayang Orang

Pernah membaca di Kompas.com tentang pertunjukan Wayang Orang Bharata di gedung di jalan Kalilio, sekitaran Pasar Senen, Jakarta Pusat. Penontonnya selain melepas rindu akan seni tradisional jawa yang semakin tergerus hiburan lain, juga menjadi wahana berkumpul, semacam reuni sesama penggemar seni Jawa. 

Menariknya, banyak di antara penonton yang sengaja membawa anak-anaknya. Sepertinya mau mengenalkan pada generasi mendatang mengenalkan wayang sejak usia dini.  (kompas.com minggu 1mei 2016). 

Penting gak sih mengenalkan pada anak anak sejak dini. Ya penting. Seni seperti halnya permainan tradisional amat penting bagi tumbuh kembang anak. Selain untuk rekreasi, seni yang tumbuh sebagai tradisi berfungsi untuk menanamkan nilai yang dapat menjadi pedoman adaptasi, menyiapkan anak agar dapat hidup bermasyarakat. Mengenal apa yang baik dan buruk, suci dan tak suci, menghormati dan lainnya.

Guru saya pak Jimmy, saya menyebutnya demikian, nama lengkapnya James Danandjaja, guru besar Antropologi UI mengatakan seni tradisi adalah folklore bagian dari kebudayaan, kolekfif, diwariskan turun temurun, lisan dan dengan bantuan gerakan isyarat untuk mempertegas bahasa lisan. 

Folklore bisa jadi berupa bahasa rakyat, ungkapan, cerita, musik, guyon, cerita menjelang tidur, juga yang lebih formal seperti teater. Folklore berupa kegiatan fisik yang setiap detik gerak dan ucapan mempunyai makna dan dimaknai. Seni tradisional apapun itu sama dengan memetakan jaringan simbol. Satu bagian hilang bisa jadi tak lagi punya makna. 

Sama saja kalau kita tak paham makna permainan sepak bola. Itu permainan gila, 22 orang berebut satu bola. Sudah dapat bulanya, malahan ditendang. 

Tak perlu banyak kotbah, berwacana terus menerus tanpa akhir, dan sering menggurui. Ajak anak anak mengenal seni sejak  dini, seperti yang dilakukan para penonton wayang orang di Bharata.

Foto: Mohamad Setiawan

Cumi asin

Cumi asin

Cukup dua atau tiga potong kecil dengan nasi ukuran sebungkus di warung Padang, mampu membawa semangat jalan jalan keliling Jakarta. Apa saja ragam masaknya, mau cumi asin balado, cumi asin tumis cabe ijo sama enaknya. Kalo soal ini, menikmati makannya yang pas ya di warteg. 

Banyak macam masakan cumi asin yang terhidang di balik etalase standar warteg. Apapun, bisa warteg kelas bawah yang pelanggannya tukang bangunan, sampe kelas atas yang konsumennya karyawan kantoran. Kalau yang kelas bawah palingan hanya satu macam masakan cumi asin. Kalau kelas atas ada dua atau tiga macam. Ada cumi asin bumbu padang, cumi asin asem manis, cumi asin goreng tepung. Dengan kutak katik sedikit, kombinasi sana sini, campuran bahan lain,  macam masakan cumi asin bisa berkali lipat dari yang disebut di atas. Hampir yakin saya bahwa cumi asin adalah bahan yang biasa ada di setiap warteg. Ketrampilan juru masak yang membuat tampilan menu cumi asin beda setiap hari 

" Beli satu dua ons setiap belanja, cukup untuk dua atau tiga jenis menu cumi asin." Iya. Cumi asin potong kecil kecil, campur dengan cabe ijo, cabe kriting dengan bumbu lainnya, sudah jadi satu menu. Cumi asin tumis dengan potongan tahu dan kacang panjang atau buncis, jadi menu lain. 

Apalagi dengan sayuran pendamping yang pas. Sayur asem salah satu yang paling disukai. Ada lagi sayuran kacang panjang tumis maupun berkuah. Soal selera variasi. Konsumen bebas memilih, mencampur menu yang tersedia di warteg. 

Kadang tak penting juga menamai menu cumi asin di warteg. Yang makan di situ tak menyebut nama menunya, hanya menunjuk saja makanan yang disuka. Pelayan akan mengikuti instruksi konsumennya. 

"Minta yang ini mbak." Sambil menunjuk cumi asin yang satu, lalu "minta yang itu juga mbak" menunjuk cumi asin jenis masakan lain. Iya juga, selagi pesan makan di warteg nama tak lagi penting. Lagi pula orang makan di warteg hanya butuh sepuluh menit, lalu bayar, lalu keluar. Apa yang dimakan pun kadang lupa. 

"Makan apa tadi"

"Sayur asem, cumi asin"

"Cumi asinnya diapain"

"Balado campur campur"

"Campur apa"

"Ya campur sambel campur sayur asem"

Soal selera, nampak tak banyak berubah. Ratusan bahkan ribuan tahun, bahan makanan dengan pengawet tetap jadi pilihan. Bahan makanan yang diawetkan dengan garam adalah salah satu metode pengawetan paling tua. 

Mau pengawetan dengan pendingin juga bisa, hanya membutuhkan peralatan yang lebih kompleks. Pengawetan dengan diasapi juga jadi makanan yang digemari. Pengawet dibutuhkan agar makanan menyerupai aslinya. "Nggak dapet yang asli, minimal dapet yang KW dengan cita rasa asli." Begitu kata Maryono, pengamen yang biasa mangkal depan salah satu warteg kesohor. Memang  Itulah guna akal budi mencari solusi dari bahan yang ada.

Sunday, 8 March 2020

Tiga Macan Safari plus Badil

Akhirnya buku yang diberi judul "Tiga Macan Safari" terbit. Saya dan beberapa teman antropolog, ikut ambil bagian dari penulisan buku Sejarah Taman Safari Indonesia. Ada belasan orang ikut dalam proyek yang dipimpin Rudy Badil. Dia yang mengajak saya dan teman antropolog lain. Dia senior sekaligua guru saya dalam banyak hal. Dia sekaligus yang selalu memberi inspirasi dalam setiap ngumpul ngobrol-diskusi.

Menggarap gagasan berkesan bosenan. Seringkali cepat pindah gagasan yang belum digarap tuntas. "kita bikin cerita asal mula ciliwung. Ini kan hulunya, sambil menunjuk sungai samping camping ground." Lalu ngobrol ngalur ngidul lagi. Sehabis makan siang dia bilang. " Kita bikin pesta tahunan, undang menteri, para dedengkot pecinta alam." Bulan berikutnya dia punya ide napak tilas, arca ganesha, nanti dibantu para arkeolog." Banyak ide yang lain, lupa saking banyaknya. Tapi satupun ide itu terwujud, karena ide ide memang enak diobrolin. Itulah Badil "satu belum selesai, sudah pindah ke yang lain." 

Tulisan ini sebagian menceritakan soal Taman Safari, soal proses membuat buku, dan dalam gagasan saya,  rasa rasanya lebih bicara pada sepenggal cerita Badil ketika mengajak ngobrol dongeng  berkisah selama ketemu dua mingguan dalam periode setahun di Rumahdua.Taman Safari Indonesia. Di bawah ini saya tulis pandangan sejengkal dan sepenggal tentang Badil.

Badil yang penuh siasat

Hanya butuh beberapa detik memutuskan ikut bantu Badil meregistrasi mereka yang mau ikutan kursus jurnalistik.

"Maksimal tiga puluh orang bro."

"Waktu secepatnya, tempatnya di Taman Safari."

"Tidak bisa langsung masuk. Kalo peserta datang mesti tunggu di parking lodge. Nanti ada mobil yang jemput."

"Kita kumpul di rumahdua" rumah kayu semacam bangsal yang biasa dipakai untuk acara training, outbound dan sejenisnya. Di dalam area taman safari, tempat penangkaran macan tutul jawa. Jelas tempatnya, waktunya sudah fixed dengan hari H yakni sabtu minggu depan. 

Tunggu punya tunggu, pas hari H nya tak ada satupun yang hadir walau janjinya ada tigapuluh yang akan datang. Soal alasan, terlalu banyak untuk dimuat dalam kisah ini. 

"Nggak ada yang minat dil(badil)." maksudnya minat training jurnalistik. Nggak enak juga rasanya, dilimpahi tugas ngajak para insan antropolog, senior junior maupun mahasiswa, ternyata tak satupun nongol.

"Oke bro, gak masalah."

Rencana bikin training berobah seratus delapan puluh derajat, menjadi rencana bikin filem atau video. Bikin filem dokumenter, bikin visual antropologi, bikin photo series. Segudang ide Badil, lalu gayung bersambut, makin seru, makin panjang diskusi, makin serupa dongeng, enak didengar dan dikhayalkan, bagai mimpi makin  bludak dituang bersama dalam satu malam di rumah kayu, di area Taman Safari. Akhir kisah, dari dongeng diwujudkan jadi lebih konkrit; membuat filem pendek. 

"Bikin stok filemnya dulu, nanti editan sambil jalan." 

"Jangan cuman filem, foto juga, kalo gak ada stok filem, bisa pake foto untuk perkuat dokumen."

Namanya ide, ngacak, ngaco, ngocol gak masalah. Pelan, tapi pasti akhirnya bikin filem pendek soal Kerak Telor. Skrip selesai termasuk anggaran. Diskusi kalangan terbatas. Masih belum konkrit. Lalu ketemuan dengan Badil untuk legitimasi proposal. "Asal Badil setuju, kita maju cari donatur." Begitu inti kesepakatan kami, termasuk ahli visual antrop yang sudah pernah buat dan publikasi filemnya di manca negara.

"Kita bikin filem soal burung bro."

Hah! Kita semua bengong saling liat liatan, waktu suatu hari sabtu bikin ketemuan.  Lalu filem kerak telor jadinya gimana? Dengan berbagai argumen, Badil mengurai pentingnya buat filem burung. Ilutrasi jalak bali yang dilepas di sekitaran taman safari membuat harga jalak tidak lagi membumbung tinggi. Orang bisa punya dan pelihara jalak. Jalak banyak didapat. Jalak tal lagi barang langka. "Kita harus bikin filem burung untuk sosialisasi ke masyarakat pecinta burung. Jadilah buat filem tentang burung. Dengan kata lain,  filem kerak telor gagal tidak jadi. Istilah Badil "kita tunda dulu yang itu". 

Ketemu minggu berikutnya, filem burung diubah.  Ganti. Tidak bikin filem. Pembicaraan soal bikin majalah burung. Setumpuk majalah tentang burung tergeletak, cetakan mewah, sudah menerbitkan delapan edisi dalam dua tahun. Ngotot bikin majalah karena kata "ajudannya" sehari sebelumnya Badil ketemu seorang penggemar aneka burung, kaya raya, menawarkan buat majalah.

Otak kita switch dari filem ke majalah. Gak masalah? ya masalah, harus berpikir ulang lagi. "kerangka pikirnya kan sama saja" kata Badil. Saya sih ngangguk aaja sambil mikir, lebih banyak nggak ngertinya daripada paham. 

Begitu kira kira apa yang ada di pikiran kami. Lalu mulai bikin rencana, beberapa orang dari pecinta alam ikutan. Dua kali pertemuan tentang rencana buat majalah burung, hasilnya adalah ide Badil lagi yakni membuat buku tentang sejarah Taman Safari Indonesia. Lagi lagi kami dibuat bengong dengan gaya pindah gagasan yang cepat. Kalo dirunut maka mulai rencana bikin training, lalu bikin filem lalu bikin visual antriopologi, lalu bikin majalah, akhirnya bikin buku. Hanya satu yang penting di sini, kemampuan Badil mensiasati, mengikat orang orang "dekat" nya ikut dalam proyek angan angannya.

Untung saja angan angan itu ada yang jadi kenyataan. Gak tanggung tanggung, ada belasan orang yang ikut terlibat dalam proyek pembuatan buku sejarah Taman Safari.  Gak tanggung tanggung, saya berkenalan dengan anggota tim yang sama sekali baru. 

Tim dibagi jadi dua, penulis dan dokumentasi. Ketua tim alias team leader adalah Badil. Tiga bulan, sudah separo jadi. Data sudah relatif lengkap, pembabakan oke, hanya layout dan editing yang makan waktu lama. Kemudian harus ditambahkan data tentang sirkus masa kini. Tim mengirim beberapa orang ke sumatra mengikuti safari sirkus dr palembang ke lampung. Tim juga ke Jawa Timur ke Safari Prigen, bagian dari perluasan di Cisarua  Terakhir melakukan observasi sirkus di Cibinong. 

Tuntas sudah seluruh pengumpulan data. Dengan membagi cerita diawali dengan pengusaha tukang obat, buka praktek berobat lalu buat sirkus akrobat, lalu membuat kebon binatang, mengembangbiakan hewan dan tanaman, menjadikan tontonan hewan dengan mobil, aneka atraksi hewan, melibatkan masyarakat lokal dan luas ambil bagian manfaat dari TSI.

Siapa dibalik berdirinya TSI adalah fokus dari buku yang barusan, 14desember 2019 diluncurkan di central Park Mall.  Bukan sekedar menampilkan nama nama mereka -Hadi Manansang, dengan tiga anaknya, Jansen Manansang,  Frans Manansang dan Tony Sumampouw juga evolusi pemikiran dan kerja amat sangat keras dari mereka yang penuh inspiratif. Makanya buku diberi judul "Tiga Macan Safari." Dengan gaya khasnya, Badil membuat sub judul yang lugas berkelas, yakni bab I Sirkus ngamen menuju permanen, bab II kebun teh jadi kebun binatang, bab III safari menuju konservasi, dan terakhir bab iv mensafarikan masyarakat memasyarakatkan safari. 

Akhirnya rampung proyek buku. Semua yang terlibat dari awal proyek buku,  diundang oleh pembuat sejarah; Macan Satu, Macan Dua dan Macan Tiga. Semoga bukunya bermanfaat bagi banyak orang, apabila ingin tahu bagaimana perpaduan bisnis dan konservasi bisa belajar di Taman Safari Indonesia. Sukses buku ini yang melalui perjalanan panjang tak menentu, namun beruntung berkenalan dengan sahabat sahabat baru dalam tim buku. Memang itu gaya Badil yang menggalang pertemanan lintas angkatan, melontar ide terus menerus, diterima syukur, gak diterima bikin ide lagi. Sayang beliau tak menyaksikan karya, yang sering dia katakan "karya terakhir".

Ibu

Melahirkan, menamai, merawat, membesarkan, mengajari mulai dari mandi, menggosok badan menggosok gigi, cuci kaki tangan naik tempat tidur, bangun pagi sudah tersedia sarapan. Siapkan bekal sekolah. 

Tas besar isinya macem macem, segala keperluan anak ada di situ, peniti, gunting kuku, handuk kecil, banyak yang lainnya, dan uang receh untuk antisipasi anak minta jajan. 

Cuci, setrika, masak, bikin kue saat natal dan lebaran, jualan untuk tambahan penghasilan. Buat prakarya, tugas sekolah di handlenya, dengan santai. Sering dilabelkan dengan status, tidak bekerja. Sebab pekerjaannya tidak menghasilkan uang. 

Selamat hari Ibu, karena hampir seluruh pekerjaannya adalah menyiapkan anak untuk masa depannya. Sebuah sumbangan yang yang susah diukur dalam itung itungan matematis. Sumbangan yang hanya bisa dirasakan betapa besar jasa Ibu.  (22Desember 2019)

Mainan Di Malioboro

Lama tak lihat ini, jual mainan dari bahan bambu. Di trotoar Malioboro Jogyakarta, di pusat keramaian dan salah satu tujuan orang berwisata kota ini. Motto, tidak ke malioboro tidak ke jogya, atau bukan ke jogya kalo nggak ke Malioboro. Dibolak balik, permainan merangkai kata supaya indah, enak dicerna dan mudah. 

Mainan bahan bambu macem macem di satu atau dua pikulan. Gasing yang nampaknya banyak dipajang. Gasing bambu. Mainan mambu yang bagus bila mendengung dengan bunyi yang keras  saat berputar. Khas sekali sebagai mainan daerah Jawa. Di Jakarta gasing berbeda. Gasing dari bahan kayu berbentuk mengerucut yang ujungnya ada besi seperti paku. Bunyi bukan ukuran bagus tidaknya mainan itu. 

Kalau dulu yang jualan biasanya lelaki tidak muda tidak pula tua. Duduk dengan dingklik di ruang terbuka kampung, tak lama dikelilingi anak anak. Penjual in action dengan memainkan gasing, satu dua seolah menunjukkan perbedaan suara dengungan. Konsumen tinggal memilih mana yang ia suka. Di Malioboro, yang jualan perempuan, ibu ibu, duduk menunggui dagangannya. Tidak sempat menunggu ibu ibu menunjukkan kebolehan main gasing bambu. Semenit dua menit di depan penjaja itu lalu berlalu melihat dagangan yang lain di sepanjang trotoar jalan yang amat terkenal itu.

Gasing asli dari Jawa?. Nggak juga. Konon Cina dan Asia Tenggara umumnya mengenal gasing. Ada proses enkulturasi atau mengambil mencangkok pengetahuan dari budaya lain kemudian mengembangkam sendiri dengan cara setempat. Akhirnya bisa menghasilkan macam dan permainan gasing, yang bisa jadi beda dari daerah asalnya.

Orang Jogya menyebut main gangsingan. Mungkin asal muasal dari bunyinya yang mendengung desis sing sing jadilah disebut gangsing. Katanya ini salah satu permainan tertua, mesti tanya sama ahli arkeologi yang biasa melakukan ekskavasi. Entah benar tua  atau tidak, yang jelas permainan ini butuh latihan dan ketrampilan supaya menghasilkan bunyi yang lebih menawan.