Showing posts with label Jangkup. Show all posts
Showing posts with label Jangkup. Show all posts

Monday, 13 May 2019

Kritis di Kampung terpencil




Pemuda fam Janampa, pewarta Injil yang bertugas di Kampung Jagamin, berteriak keras lewat tengah malam , keluar dari Itongoi milik fam Omaleng, kemudian melanjutkan teriakannya di tengah lapangan depan Itongoi. Kepala Kampung yang se rumah dengan kami mengatakan bahwa ibu yang sakit itu telah meninggal dunia. 


Sejak dua minggu sebelumnya, perempuan yang sakit itu hendak dibawa ke Rumah Sakit di Banti, tapi burung besi (helikopter) itu tak kunjung menjemput. Mengirim kurir berita ke rumah sakit sudah dilakukan melalui kerabat yang tinggal dekat rumah sakit. Tetapi tak ada helikopter datang. Berbagai teori kenapa helikopter tak datang bermunculan di antara elite kampung.


“Cuaca buruk jadi helikopter sulit terbang dan sulit mendarat.”


“Tidak ada rujukan dari klinik Aroanop, jadi rumah sakit tidak melayani.”


“Penyakit pasien itu tidak mungkin disembuhkan.. tidak guna dijemput.”


Apapun teori  di antara mereka faktanya helikopter tidak datang, dan pasien meninggal.

Satu minggu Perempuan Omaleng itu masih belum sembuh. Kondisinya makin tambah parah. Keponakannya memindahkan dari rumahnya ke Itongoi Omaleng di ujung kampung.


“Menempatkan pasien di Itongoi lebih baik” kata keponakannya  sembari menggandeng perempuan itu berjalan ke itongoi.


Orang sakit parah biasanya dibawa ke itongoi  karena pasien bisa dijaga secara bergiliran oleh kerabat-kerabat dekatnya. Selain itu di dalam itongoi selalu hangat karena di tengah ada perapian yang setiap kali dinyalakan oleh penjaga yang bergiliran.


“Penyakit perempuan Omaleng itu tidak ada obatnya.” kata Kepala Kampung


“Ia kena penyakit menular yang sulit untuk disembuhkan.” Sambung Kepala Kampung.


Lalu bercerita Kepala Kampung itu. Perempuan itu kena penyakit menular seks ketika di Timika (kota paling ramai di Kabupaten Mimika). Ketika penyakitnya semakin bertambah parah, perempuan itu semakin tidak nyaman berada di Timika. Di kota itu ia tidak ada yang merawat. Suaminya sudah meninggal, sementara adik laki-lakinya terlalu sibuk dengan bisnis konstruksi. Ia minta kepada adik laki-lakinya agar dia bisa pulang ke kampungnya di Kepala Air, di lembah Aroanop. Adiknya kemudian mendaftar agar mendapat prioritas dari rumah sakit untuk memulangkan pasien ke rumahnya di kampung. Sampailah perempuan itu di kampungnya lalu dirawat oleh sanak keluarga di rumahnya.


Perempuan yang meninggal itu adalah adik perempuan dari isteri Kepala Kampung Jagamin. Dia janda. Berasal dari fam Janampa yang kampung aslinya di Wa-Bera, kira-kira satu jam jalan kaki dari kampung Jagamin. Suami perempuan itu sudah meninggal 3 tahun lalu. Menurut Kepala Desa penyakit suami-isteri itu sama, yakni “penyakit besar” atau “sakit besar” atau yang biasa dilafalkan oleh penduduk setempat sebagai “takis berat”. Suami perempuan fam Omaleng, mempunyai tali kerabat keturunan dengan Kepala Kampung. Suaminya  adalah sepupu tingkat pertama dengan Kepala Desa. Bapak mereka kakak beradik kandung.


Hanya tiga hari berada di itongoi, akhirnya perempuan itu meninggal dunia. Tidak ada keterangan resmi dari dokter atau petugas kesehatan yang menyatakan perempuan itu sudah meninggal. Tapi sudah dipastikan oleh kerabat-kerabatnya yang menunggui siang-malam bahwa ia meninggal. Menjelang meninggal, badannya sudah membau, luka-luka yang ada di perutnya menganga ditutupi dengan kain seadanya.

Ritual Penguburan

Suara deru helicopter terdengar mendekat kampong itu. Itu yang ditunggu-tunggu. Sekejap seluruh penghuni kampong keluar dari rumah, gabung dengan mereka yang masih di lapangan.

“pastilah itu adik almarhum yang dating”  serentak kerumunan orang di lapangan terbuka itu berteriak.

“semoga saja. Dan kita segera menyiapkan acara penguburan. Keluarkan jenazah dari rumah itongoi (honai dalam bahasa Dani).” Perintah petinggi kampong.

“jangan dulu. Pastikan Helikopter mendarat dan memang betul adiknya yang dating.” Kata yang lain.

Mereka semua memandang ke atas, mengira-ngira tepatnya posisi helicopter di atas mereka. Kabut tebal menghalangi pengelihatan. Harap cemas ada keajaiban, kabut tersibak, benda berupa helicopter mendekat di atas mereka.  Itu hanya harapan. Kenyataannya, tak terjadi

Suara helicopter yang masih menderu deru di atas lapangan makin lama makin menjauh, dan selang beberapa waktu tak lagi terdengar. Sudah dua kali helicopter itu dating dan tanpa mendarat kemudian pergi. Sepertinya tak mungkin ada heli mendarat di cuaca kabut yang tebal di ketinggian 2000 meter.
Menunggu tanpa kepastian membuat  fam Jangkup  menghendaki  penguburan segera.  Lebih cepat lebih baik. Acara berlarut larut, beban tuan rumah makin berat menyediakan makanan, apalagi Beberapa pihak  mengatakan tidak dapat bolos kerja terus menerus. Harus izin dan pastinya potong gaji. Jadi berharap tuan rumah melaksanakan hari ini. 

Desakan terus menerus, pidato Pendeta yang berulang ulang tentang  makanan semakin menipis. Kebun-kebun gagal panen karena longsor. Sementara tidak ada suplai beras dari Timika karena tidak ada angkutan udara.

Negosiasi alot berbagai argumen silih berganti diungkap dua belah pihal,  akhirnya tuan rumah,  fam Omaleng, setuju. Segera memutuskan melakukan penguburan dengan atau tanpa adik almarhum. Pihaknya merasa bersalah bilamana acara mengubur berlarut-larut membuat banyak orang jadi terhambat kegiatan berkebun, kerja proyek, lainnya.

Peti segera disiapkan, para pemuda menggotong jenazah keluar dari Itongoi, menyelimuti kain, memasukan ke peti, lalu dilaksanakan kebaktian dipimpin Pendeta asal fam Jangkup. Tutup peti, lalu dipanggul dibawa ke pemakaman,  disertai tangisan dan senandung kerabat perempuan yang duduk bersila di lapangan.  Hanya para pemuda dan beberapa kerabat dekat yang mengantarkan ke kuburan. Mereka—pemuda  berbadan tegap dan kekar—yang dianggap mampu memanggul peti sekaligus memasukan peti ke lubang kemudian menimbun lubang sampai membentuk gundukan kuburan. Sementara para orangtua, tokoh, dan juru bicara fam dan kerabat-kerabat yang lainnya menunggu di lapangan duduk atau berdiri mematung, bercakap-cakap dengan suara rendah sambil menunggu para remaja dan pemuda kembali.

Tak lama jenazah dikubur dan para pemuda satu per satu sudah kembali ke lapangan, tiba-tiba cuaca menjadi cerah, matahari bersinar, deru mesin helikopter kembali terdengar. Sebuah helikopter mendarat di kampong itu, membawa adik dan anak perempuan almarhum.

Friday, 10 May 2019

Penguburan Perempuan

Upacara penguburan perempuan fam Omaleng, tidak seperti bayangan kami. Bakalan ada laki perempuan dengan muka coreng moreng, menari sana sani, berteriak-teriak seperti memanggil roh leluhur. Tidak. Tidak demikian. Tidak seperti di foto-foto, filem, video tentang masyarakat primitive yang pernah dibuat. Semua berlangsung biasa saja, seperti layaknya sebuah peristiwa kedukaan. Hal yang paling nampak adalah tangisan, ungkapan perasaan sedih dari kerabat-kerabat almarhum terutama yang mengenalnya secara dekat. Hal yang menarik bagi saya adalah ketika menentukan waktu penguburan.

Penentuan hari penguburan melalui sebuah proses tawar menawar yang ketat. Walaupun fam Omaleng adalah tuan rumah dalam peristiwa ritual kematian dan penguburan, tetapi omaleng tidak menentukan seluruh proses itu. Omaleng harus menyampaikan rencananya dan minta pendapat kepada kelompok Jangkup dan kelompok Jenampa atas rencana itu. Kenapa? Perempuan yang meninggal itu adalah fam Jenampa ketika masih gadis. Lalu kenapa juga dibicarakan di depan fam Jangkup? Sebab ibu dari perempuan yang meninggal itu fam Jangkup.

Rencana itu disampaikan di depan semua kerabat almarhum yang bertalian secara keturunan dan perkawinan.  dalam hitungan jam setidaknya semua perwakilan kerabat tali temali dari keturunan dan perkawinan sudah berkumpul di lapangan untuk menentukan hari penguburan. Seorang setengah baya fam Jangkup dan pendeta yang juga fam Jangkup berpidato secara bergantian di lapangan di depan Itongoi, disaksikan oleh seluruh kerabat yang membentuk setengah lingkaran. Dua orang tokoh senior Jangkup berharap agar jenazah segera dikubur. “kami dari pihak Jangkup sudah diberitahu sejak almarhum sakit, kami sudah melihat keadaan almarhum, kami sudah berdoa ketika almarhum sakit tidur di Itongoi. Karenanya kami berharap agar almarhum segera dikubur tanpa perlu menunggu sehari lagi. Demikian inti pidato yang dinyatakan oleh pihak Jangkup. Hal lain dinyatakan juga oleh mereka berdua bahwa semakin cepat dikubur maka semua kerabat dapat langsung kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.